Surat Cinta

Bertahan Karena Jarak Itu Omong Kosong

Jombloo Dot Co
Ditulis oleh Jombloo Dot Co

A’, apa kabar? Sehat kah? Maaf jika aku tak langsung menyapamu lewat tulisan yang bahkan sudah aku ketik di layar ponselku. Nyali untuk menghapusnya lebih besar daripada aku mengirim pesan itu untukmu yang tak tahu kini sedang apa.

“Iya.” Itulah jawaban terakhir yang masih aku ingat saat aku bertanya, “Aa’ lagi sibuk?” Jawaban kemarin, iya dua bulan lalu.

November 2015 kita berkenalan, November 2016 kau tak lagi ada kabar. Aku mulai khawatir meskipun aku tak punya hak untuk menghawatirkanmu. Aku cemas, meskipun tidak ada alasan bagiku untuk mencemaskanmu. Mungkin aku yang salah. Aku yang terlalu lebay, begitu katamu.

Kau mendekatiku dengan cara yang baik. Kaudatang dengan sebaris salam, bertuliskan maksud dan tujuan. Meskipun perkenalan singkat kita kaulanjutkan dengan niat yang membuatku bahagia, aku tak langsung mengiyakannya. Kau pun mengerti, aku baru saja mengalami patah hati. Ditinggal oleh orang yang aku percaya, yang telah menyita perasaanku dua tahun lamanya.

Kau datang disaat aku butuh teman untuk berbincang. Kau bercerita tentang banyak hal; tentang pekerjaanmu yang sangat melelahkan, tentang adikmu yang tumbuh dewasa dan sering menanyakan, “Aa’ kapan nikah?” tak lupa kau sertai dengan tawa khas nada Sunda yang menyenangkan untuk kudengar.

Seiring waktu berlalu, makin lama kehadiranmu membuat aku lupa, bahwa aku bisa saja patah hati lagi jika jatuh cinta.

Kita memang tidak pernah bertemu. Namun, kita menyepakati untuk saling mengenalkan orang tua kita melalui gambar yang kauambil dari salah satu akun sosial mediaku. Kau mulai angkat bicara malam itu, “Baru deket Ma, Aa’ udah nembak, tapi dianya nolak,” begitu ceritamu padaku saat kau mengenalkan sosokku pada orang tuamu. Aku pun tak menyangka dalam waktu sesingkat itu kau berani mengambil langkah yang tak pernah aku duga.

“Ya udah A’, sabar aja dulu, kan dia juga masih kuliah,” begitu kata orang tuamu.

Dari cerita itu aku percaya, aku pun turut bahagia, ternyata masih ada lelaki yang mau mendekatiku dengan cara baik. Namun bersamaan dengan itu, aku juga lupa, seorang aktor digerakkan oleh sutradara. Aku pikir akulah aktor, sutradara sekaligus penulis skenarionya. Lantaran hal itu aku mulai mengerti, bahwa tidak perlu begitu dipercaya walau hanya dari cerita hati.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan hingga hampir 10 bulan berlalu. Makin lama makin jauh pula perjalanan cerita cinta kita, begitu aku menyebutnya. Aku mulai menautkan kata kita disetiap hariku. Tiada hari tanpa kabarmu, tiada hari pula tanpa keluh kesah segala macam aktivitasmu. Aku semakin yakin dan percaya, hingga kupastikan disetiap doaku, kuselipkan namamu di hadapan-Nya.

Layaknya pasangan yang sedang jatuh cinta. Kita sering menghabiskan malam lewat telepon berjam-jam lamanya. Kauingin tahu kenapa sampai saat ini aku masih sendiri. Tak tanggung-tanggung kau pun menanyakan tentang cinta di masa laluku, yang meninggalkanku setelah memberikan janji manis yang dengan senang hati aku menelannya.

Dengan gagah kau berkata, “Ya pantas saja, dia masih kecil. Masih maunya main-main. Kasihan sekali ah kamu,” Kau membantuku untuk tidak lagi mengingatnya, hingga berhasil  dan  kini yang aku ingat tinggal namamu. Iya, namamu yang sempat merencanakan masa depan. Namamu yang sempat memikirkan pernikahan. Namamu yang membuat aku sanggup bertahan.  Namamu yang kini tinggal kenangan.

8 Desember 2016. Entah ada angin apa, kau mendaratkan pesan untukku.  Saat itu juga aku memberanikan diri untuk menanyakan bagaimana kabar kita saat ini. Kita sama-sama menunggu,  atau cuma aku yang jatuh cinta denganmu.

“Sebenernya sampeyan ke aku gimana sih? Karena sampyan nggak pernah kasih kabar, aku jadi ngerasa nggak jelas. Meskipun kita emang nggak ada hubungan yang jelas.  Maaf kalau aku nanya secara langsung, soalnya sampeyan pernah ngomong hal yang serius. Jadi aku juga mau tahu kejelasannya,” begitu tanyaku.

Kau pun menjawab, “Oalah. Jadi gini ceritanya. Baru-baru ini saya ditolak resign sama atasan. Terhitung akhir November kemarin saya udah ngajuin, terus disuruh pikir-pikir dulu, terus Senin kemarin saya dipanggil. Ya itu, bahwa atasan nggak mau saya keluar. Nah, saya mikir ke kamu. Kalau saya begini terus kan kasihan kamu. Kita jauh, repot juga urusannya. Saya nggak mau juga PHP-in kamu. Jadi gimana ya…”

Saat itu, cuma kalimat terakhir yang dapat aku cerna, jadi gimana ya ….

Aku hanya bisa terdiam, sembari mencerna apa maksud dari kalimat terakhirmu. Aku pun membalas, “Seharusnya sampeyan bilang dari awal Mas, biar aku nggak merasa di-PHP-in. Seenggaknya kalau sampeyan ngomong dari awal, aku nggak berpikir macam-macam. Aku nggak minta dikabarin tiap hari. Aku cuma mau tahu gimana kita sekarang, itu yang pengen aku tahu dari sampeyan.”

Pesan terkirim. Aku lihat kau sedang mengetik pesan balasanmu untukku. Dengan berdebar aku menunggu balasanmu. Bagaimanakah kisahku kali ini? Haruskah aku bertahan atau aku harus melepaskanmu?

Dari percakapanmu aku mengerti, kau mempermasalahkan jarak yang jauh ini. Tidak terlalu jauh menurutku. Masih sama-sama di Jawa, hanya saja kita tidak di ujung Jawa yang sama. Kamu di Jawa Barat sedang aku di Jawa Timur.

Setengah putus asa, aku membaca pesan terakhir darimu. “Loh bukan alasan jarak, tapi kualitas hubungan. Tadinya kalau saya bisa keluar, saya mau coba cari kerja ke tempat kamu. Tapi ternyata saya nggak boleh. Jadi saya susah ke kamu. Susah dari semua sisi.”

Susah dari semua sisi… kubaca berulang kali kalimat ini. Jadi intinya hanya aku yang tidak mempermasalahkan jarak kita. Hanya aku yang yakin bukan karena jarak alasannya. Hanya aku yang percaya, bahwa ada cara lain untuk menyelesaikan masalah jarak kita. Hanya aku yang yakin bahwa semua baik-baik saja. Hanya aku yang yakin bahwa kita bisa menjalaninya.  Iya, hanya aku.

Di ujung sana, kau menjawab pertanyaanku yang terbata-bata. “Iya, jadi mulai sekarang kamu buka hati untuk yang lain,” begitu katamu

Sampai sore ini di tempatku turun hujan, dan malam ini hampir berhenti. Bersamaan dengan itu, hujan dari mata dan hatiku menggantinya dengan lebih deras lagi. Semudah itu sampeyan ngomongnya.

Aku kira ditinggalkan pas lagi sayang-sayangnya hanya ada dalam kata-kata. Aku kira melepaskan yang hampir tergenggam hanya bacaan semata. Aku kira menyerah sebelum memulai hanya jadi meme. Tapi hari itu aku benar-benar mengalaminya.

Hanya aku yang percaya. Hanya aku yang yakin bahwa semua baik-baik saja. Hanya aku yang jatuh cinta sendirian. Hanya aku yang merasakan semua. Hanya aku, sendirian.

Hingga malam ini, aku hanya bisa berpikir sembari menangis. Seharusnya dari awal kau tak perlu melarangku untuk berhenti melakukan ini-itu dengan alasan demi kebaikanku. Seharusnya aku tak perlu masuk ke kehidupanmu, jika akhirnya kau pun ikut pergi setelah selesai dengan pencapaianmu. Lihatlah, dari sini, siapa yang lebih jahat? Kamu,  atau kebiasaanku?

Kaubilang, “Dia masih kecil, masih mau bermain-bermain, kasihan ah kamu,” Iya, kasihan sekali aku. Tidak belajar dari masa lalu, hingga kini aku harus mengasihani diriku sendiri karenamu.

Teruntuk A’a di Garut.

“Jangan sakit ya,” Setidaknya kalimat itu yang menjadi kenangan untuk masa lalu kita.

Terima kasih sudah menjadi barisan satu tahunku. Pelajaran patah hati yang berharga di usiaku yang kedua puluh dua.

Tentang Penulis

Jombloo Dot Co

Jombloo Dot Co

Situsweb yang digerakkan dengan semangat kasih sayang.

Jombloo.co - Pilihan untuk bahagia.

  • feronica Tan

    $bertahan-karena-jarak-omong-kosong/bertahan-karena-jarak-omong-kosong/

    Main Games sambil cari Rupiah – Gabung aja bersama Agen Poker S1288POKER | BBM : 7AC8D76B