Curhat

Darimu Aku Belajar Bahwa Cinta Tak Harus Memiliki

Fajar Nurcahyo
Ditulis oleh Fajar Nurcahyo

Ketika mendengar kata cinta, banyak orang seketika akan kembali terenyuh ke dalam pelbagai lantunan rasa di kala mengingatnya. Bahagia, muak, ataupun sedih. Untuk merasakannya pun tentu seseorang harus terlebih dulu jatuh ke dalamnya.

Cinta adalah bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual, sehatnya demikian, dan kebanyakan dari kita memaknai cinta seperti ini. Namun, dalam beberapa kasus cinta juga dapat terjadi meski hanya searah. Karena nyatanya, kita melihat cinta hanya sebagai persoalan dicintai, bukan mencintai. Sehingga mendorong manusia untuk selalu mempermasalahkan bagaimana agar dirinya menarik bagi orang lain, lantas dicintai. Adapun lainnnya, kita sering memahami bahwa cinta itu harus memiliki.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, barangkali ada yang harus aku ungkapkan. Begitu banyak yang telah kulalui dan alami, khususnya saat-saat bersamamu, gadis berkacamata. Dahulu semasa sekolah menengah atas, mungkin aku hanya remah-remah rengginang sisa lebaran yang ada di kaleng Khong Guan. Seorang lelaki yang tidak mungkin menarik siapa pun.

Sampai kau menemukanku, dalam tak keberdayaan digauli oleh hari, dan seketika itu juga kau mulai mengulurkan tangan. Tangan yang kemudian memaksaku untuk terus melatih memadukan otak dengan berbagai rumus bilangan. Jujur, aku selalu takut untuk dapat mengutarakan perasaan ini kepadamu di hari lalu.

Sejak perkenalan itu sampai satu tahun kemudian, aku lantas mulai bertanya-tanya. Apa sesungguhnya yang aku takutkan? Bukankah cinta melulu berbicara soal perjuangan, sebagaimana kaum-kaum buruh yang Marx katakan? Rebut kembali alat produksi! Benar, pembedanya hanya—ini soal merebut hatimu.

Semua terus berlanjut. Hari kita beralih bahagia. Bahkan ketika senja, aku hanya ingin mega-mega segera datang, dan kembali dapat memanggil namamu di perjumpaan kelas. Kemudian oleh karena suatu keadaan, kita lantas berpisah. Meski begitu, kita tetap membawa segala yang kita punya bersama menuju tempat baru, bersama harapan yang mungkin masih setia menjaga rasa.

Aku tak pernah sadar, bahwa satu waktu aku mampu sebodoh itu. Mempercayakan semuanya kepada emosi, tanpa memberi kesempatan untuk menanyakan kebenarannya kepadamu. Angkuhku sungguh merayu kala itu, sampai kubiarkan semuanya berakhir begitu saja.

Atas pengalaman masam itu, aku mulai berbenah diri. Memungut puing-puing di reruntuhan dan mulai memperbaiki yang bisa diperbaiki.

Membangun semuanya dari awal memanglah sulit. Namun jika harus dibandingkan denganmu, masamku bukanlah apa-apa. Tapi biarlah, bukankah semua orang untuk menjadi kuat harus melewati luka? Benar kan? Sebagaimana sikapmu dalam memberi arti penderitaan ini, dengan bersedia menerimanya sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari lagi, sekalipun itu menyakitkan. Kamu tetap tegar dan menjalani hari-hari seperti biasa.

Kusadari, kesalahanku yang pertama yaitu meyakini cinta sebagai sesuatu yang senantiasa aktif, di mana ia melulu harus direalisasikan dalam hubungan yang aktual, serta sudi untuk menyediakan tempat di dalam diri untuk seseorang yang dicintai. Karena pada awalnya, kukira cinta tidak pernah mengajarkan untuk pasif berdiam diri dan menunggu, tetapi ia selalu memulai dan mengundang untuk dicintai. Sebab cinta bukan hanya soal jatuh, melainkan bertahan di dalam, mempertahankan apa yang pantas dipertahankan.

Barulah kini kupahami, meski terdengar begitu ideal, tapi faktanya seperti itu. Cinta adalah persoalan memberi dan bukan menerima, sebagaimana engkau yang tabah menerima keadaan yang terbalik begitu saja lewat puisi yang kuberikan pada seorang gadis lain di suatu malam. Sehingga kemudian darimu lah aku belajar, bahwa cinta tak harus memiliki. Karena kepemilikan hanya akan menghambat proses, mengutuk kita untuk tidak dapat mengembangkan potensi diri masing-masing. Bukankah dulu kita pernah berniat untuk menuliskan nama bersama dalam lembar penelitian? Maaf aku jadi baper, hehe.

Barangkali kita bertanya-tanya, mengapa cinta bukan suatu kepemilikan? Sadarlah, Kawan, karena cinta bukanlah suatu paksaan. Ia hanya memberikan kebahagiaan pada orang yang dicintai. Itu, hanya itu. Oleh karenanya, cinta manusia mengandung lebih banyak kehendak tanpa syarat untuk menjadi sesuatu yang satu dengan yang lain.

Maka seharusnya, cinta bukan tertumpu pada soal menerima, namun memberi. Bagaimana cara kita memberikan perasaan terdalam yang kita miliki, untuk seorang yang terkasih. Namun perlu ditekankan, memberi yang dimaksudkan di sini bukan berarti kita mengorbankan sesuatu begitu saja, atau bahkan memberikan hidupnya demi orang lain. Tetapi, memberi di sini merupakan tingkat ekspresi tertinggi. Ia adalah suatu perwujudan yang paling nyata dari potensi diri, karena melaluinya kamu mampu merasakan kekuatan dan kekayaan dari kebahagiaan yang melimpah. Lalu yang disebut kaya di sini bukanlah dia yang mempunyai lebih banyak, melainkan siapa yang memberi lebih banyak tanpa rasa gelisah karena khawatir kehilangan sesuatu.

Mengapa demikian? Sebab ketika manusia memberikan dirinya, memberikan sesuatu yang teramat berharga yang dia miliki, seperti waktu dan kehidupannya. Sesungguhnya dia telah memberikan kegembiraan, kepentingannya, pemahamannya, pengetahuannya, kesediannya, serta segala ekspresi dan manifestasi yang ada dalam dirinya. Dengan tindakan tersebut, tidak pula ia mengharapkan imbalan. Karena memberi pada dirinya, yang terkasih, tentu sudah menimbulkan kegembiraan yang luar biasa di dalam dirinya.

Aku sempat teringat dengan perkataan seorang teman, bahwa tetap ada mimpi-mimpi biarpun memilih sepi, walau tak ternyatakan lewat kenyataan. Karena tak semua hal harus bisa diterima. Mengapa? Mari sejenak kita renungkan, sungguh, cinta tidak pernah menuntut apa pun selain kesadaran hati yang berkenaan dengan keterbukaan perasaan. Pun tidak ada yang lebih ingin kita rasakan dalam diri kita dibandingkan dengan kelembutan diri kita sendiri. Sehingga, kemampuan kita untuk merasakannya, itu menunjukkan kemampuan kita untuk mencintai.

Dalam setiap pertemuan cinta, kita tentu mendamba dan menghendaki sebuah cinta sampai akhir. Namun perlu diingat, sebagaimana yang telah diungkapkan sebelum-sebelumnya, hal semacam ini mengartikan kita hanya memfokuskan perhatian pada bagaimana hubungan itu dimulai, dan tidak untuk mengatakan kepada kita bagaimana itu berkembang nantinya melalui masa. Ketika apa yang kita dambakan tidak sesuai, maka hasrat dalam diri kita seakan runtuh, tak ingin memapah kembali jalannya cinta, yang lambat laun kian memudar hingga menjadi serpih buih di udara.

Lantas perlu kita pahami kembali, apakah dengan mengunggulkan permulaan dalam sebuah hubungan merupakan tindakan yang adil dalam menilai cinta? Tentu tidak. Pemahaman seperti itu hanya menyesatkan. Bagaimanapun juga, cinta merupakan sebuah proses, dan ia berkembang setiap saat. Pastinya pula gambaran mengenai cinta akan tampak berbeda dibanding permulaan cinta. Menilai keseluruhan proses dengan pengalaman awal yang dirasakan oleh kita adalah tanda dari ketidakdewasaan dalam diri.

Hal seperti itu terjadi karena pemahaman kolektif kita tentang cinta sering kali diperdaya oleh kekuatan-kekuatan magis yang menghiasi momen pertama cinta, dan kita menginginkan momen seperti itu kekal, terus bertahan.

Adapun yang perlu dipahami ketika membicarakan soal cinta, kata “kita” di dalamnya bukan lagi merupakan kesatuan antarmanusia yang terbentuk dari “aku” dan “engkau” yang dijumlahkan secara matematik. Namun, sesuatu yang terbentuk dari “aku” dan “engkau” yang saling mencintai. Kesatuan “kita” yang terjewantah di sana tidak dapat dipisahkan dengan cara apa pun, karena itu ditutut adanya kesediaan dan keterbukaan “aku” dan “engkau” dalam menerima dan menghadapi undangan tersebut. Sehingga bila “kita” sungguh-sungguh menerima undangan itu, seharusnya “aku” dan “engkau” telah mampu keluar dari masing-masing ego, baik dalam rasa iri, cemburu, hasrat dan segala bentuk ketamakan yang ada, untuk menyatu dalam sebuah dimensi transedental manusia bernama cinta. Hal ini membuktikan bahwa melalui cinta manusia sesungguhnya mampu melampaui dirinya, untuk bersatu dengan orang yang dicintainya.

Gadis berkacamata, maafkan, jika memang harus begini. Maaf, aku telah tinggalkan kamu sendiri, teruntuk satu yang tidak pasti. Aku sungguh tak yakin mampu menghapus kembali sedihmu karenaku. Kini, hatiku hanya mampu berharap, semoga bahagiamu tetap seperti dulu. Satu senyum yang pernah menghangatkan hati, juga mimpiku.

_________________________________________
*naskah ini diikutsertakan dalam lomba #NyepikinTemen

Tentang Penulis

Fajar Nurcahyo

Fajar Nurcahyo

Seorang pria yang lahir dari rahim luka.

  • Stacia Kim

    Come & Join Us :
    -WeChat : s1288poker
    -Line : s1288poker
    -Twitter : @s1288poker
    -Facebook : @s1288poker
    -BBM : 7AC8D76B