Tips

Jelang Tahun Baru, Jomblo Jangan Bingung

Ikram Junaid
Ditulis oleh Ikram Junaid

Malam tahun baru 2017 yang kebetulan bertepatan dengan malam minggu tinggal hitungan hari. Masyarakat seluruh dunia tak sabar menunggu malam pergantian tahun ini, begitu pun masyarakat Indonesia. Semarak memeriahkan momen tahun baru dengan berbagai acara, saya rasa hampir setiap orang mempunyai rencana untuk melewati malam spesial itu. Berkumpul bersama beberapa kawan, bakar foto-foto dan barang pemberian mantan jagung atau ayam, pergi ke tempat-tempat rekreasi atau pusat perbelanjaan, adalah hal-hal yang umum dilakukan pada malam tahun baru, oleh saya dan mungkin kita semua.

Sudah menjadi konsensus bersama, bahwa malam minggu merupakan waktu yang paling tepat untuk bermesraan dengan pasangan. Kenyataan ini sangat kita sadari, terutama para jomblo.

Bagi kalian yang tahun depan masih ingin setia dengan kesendirian, jangan sekali-kali keluar ke tempat-tempat yang akan saya uraikan di bawah ini. Demi keberlangsungan dan ketentraman jiwa kalian, Mbloo. Kalian pasti tak ingin merayakan tahun baru dengan perasaan kesal dan jengkel yang mendalam, bukan? Sebab malam tahun baru 2017 berbarengan dengan malam minggu. Para jomblo akan menjadi saksi indahnya memadu kasih, bergandengan tangan di pusat perbelanjaan, di tempat rekreasi, pantai, taman dan banyak lagi tempat yang melambangkan cinta sepasang insan.

Daripada harus melihat kenyataan-kenyataan di atas, saya sih lebih baik mengasingkan diri, kalau perlu diasingkan ke Pulau Buru seperti sastrawan Pramoedya Ananta Toer, mungkin ilham kreatif Pak Pram bisa turun kepada saya. Berikut ini adalah tempat-tempat yang sebisa mungkin jangan didatangi para jomblo pada malam tahun baru.

Taman Kota

Taman kota menjadi salah satu target tempat untuk menikmati malam tahun baru bersama sang pujaan hati di hari yang hanya datang satu tahun satu kali. Taman didesain sedemikian rupa indahnya, agaknya pemerintah turut berkontribusi dalam menumbuhkembangkan panjangnya barisan sakit hati.

Para pasangan dengan wajah malu-malu kucing bergandengan tangan, saling suap-suapan tanpa peduli orang-orang di sekitar mereka. Dengan sedikit rayuan gombal, mereka saling peluk-pelukan sambil bilang, “Sayang, kok malam ini dingin banget ya?” Sepatah prosa inilah yang mejadi legitimasinya.

Demi menguatkan eksistensi kaum berpasangan, mereka tidak lupa mengabadikan momen yangyangan itu dengan berswafoto (selfie), mengunggahnya di jejaring sosial Facebook, Twiter, Instagram dan media propaganda lain. Tidak lupa mereka juga menyertakan tagar #HappyNewYear #MalamTahunBaruBersamaPacar sebagai penguat propaganda.

Para jomblo yang aktif berselancar di jejaring sosial siap-siap saja mendadak terkena serangan jantung karena pameran kemesraan mereka. Bukan saya mendoakan, mungkin salah satu dari orang-orang yang pamer kemesraan itu adalah mantan kalian. Sesak! Namun derita jomblo idealis tidak seberapa pedih bila dibandingkan dengan jomblo karena nasib; ditinggalin, diselingkuhin, dan belum bisa move on. Bayangkan saja, betapa baper para jomblo ketika melihat swafoto mantannya muncul di beranda akun media sosial.

Pantai

Bila taman kota digunakan sebagai tempat menunjukkan eksistensi kaum berpasangan, maka pantai adalah tempat berkasih—di mana hanya aku, kamu, dan tuhan yang tahu. Situasi yang tenang, damai menjadi panorama tersendiri bagi sebagian kaum berpasangan.

Tempat ini sebetulnya hampir tidak pernah didatangi para jomblo, baik saat malam minggu maupun malam tahun baru. Tapi teman-teman kita sesama jomblo sering mengajak, bahkan mungkin dengan seruan yang agak bikin kesal. “Mbloo, daripada kamu terasing di kota sendiri, mending ke pantai yuk! Meditasi di sana biar bisa move on.”

Namun sampai di sana, bukan suasana sepi dan tenang yang didapatkan para jomblo, malah seolah mereka sedang berkunjung ke pasar malam. Sebab pantai pada malam tahun baru menjadi surga firdaus bagi kaum berpasangan. Sudut-sudut gelap pantai dihiasi api unggun, para pasangan itu lantas mengutarakan petuah: biar pantai jadi saksi cinta kita.

Pusat Perbelanjaan

Memang benar setiap penghujung tahun, akan selalu ada diskon besar-besaran di berbagai pusat perbelanjaan. Masyarakat berbondong-bondong mengunjungi tempat ini, baik dengan tujuan membeli atau sekadar jalan-jalan. Kebanyakan pengunjung adalah orang yang umurnya kisaran 15-30 tahun. Mereka berjalan dan membawa gandengan seperti keluarga, teman, dan yang paling banyak bersama pacar.

Dibandingkan kedua tempat di atas, pusat perbelanjaan lebih terang-terangan menunjukkan perbedaan kelas, antara kelas bawah dan atas, antara pemenang dan pecundang dalam kompetisi asmara. Sialnya, ledakan pacaran besar-besaran justru terjadi di waktu-waktu seperti pada malam tahun baru.

Seorang yang masih sendiri di malam tahun baru dianggap memunculkan stigma galau di jejaring sosial. Jalan terakhir yang mesti ditempuh oleh kaum minoritas ini ialah politik identitas, yaitu jalur perlawanan terhadap dominasi kaum berpasangan. Perlawanan terhadap ketidakadilan, seperti Revolusi Bolshevik di Uni Soviet. Dengan semangat kasih sayang, para jomblo harus melawan. Jangan mau terus-menerus dicap sebagai seorang yang belum bisa move on . Tulis, Mbloo! Tulis! Lawan!

Tahun baru seyogianya menjadi pusat refleksi dan evaluasi terhadap kualitas diri kita sebagai insan, bukan ajang pamer pacar baru apalagi pamer pakaian diskon. Mari kembali meninjau esensi manusia sebagai makhluk sosial. Soal kesenjangan yang terjadi antara kaum jomblo dan kaum berpasangan, kiranya juga bisa sedikit dipadamkan demi kedaulatan manusia. Tidak ada sindir-menyidir, “Tahun baru, kok masih sendiri aja?”

Tentang Penulis

Ikram Junaid

Ikram Junaid

Manusia yang menuju Renaissance.

  • feronica Tan

    S1288POKER – 100% Tanpa BOOT ! Member VS Member | Minimal Dp 10rb & Wd 20rb | BBM : 7AC8D76B | http://www.pokers128.com/ref.php?ref=S128_PKR

    #jelang-tahun-baru-jomblo-jangan-bingung/jelang-tahun-baru-jomblo-jangan-bingung/jelang-tahun-baru-jomblo-jangan-bingung/