Berita dan Artikel

Kisah Timnas Indonesia di Piala AFF 2016 dan Pelajaran untuk Kaum Jomblo

Luthfi Anshori
Ditulis oleh Luthfi Anshori

Pertama-tama saya ingin mengucapkan selamat kepada kalian. Hujan saat malam minggu dan pertandingan final AFF Cup 2016 antara Indonesia VS Thailand sukses meredam amuk kaum berpasangan terhadap kelompok jomblo baperan yang senantiasa berlindung di balik dua momen penting: hujan dan sepakbola.

Sayangnya, hujan berlalu terlalu cepat, Timnas Indonesia pun gagal memenangi trofi Piala AFF untuk kesekian kali. Kalau dihitung-hitung, ini adalah kegagalan kelima sang Garuda ketika sudah berjarak hanya sekitar 180 menit dari trofi AFF Cup. “Gemeter, bro!” Mungkin kata-kata itulah yang diucapkan Garuda ketika hampir mendapatkannya. Dan barangkali, juga kalimat yang akan kita ucapkan—eh kita? loe aja kali—ketika berjarak seper-chat-an dari gebetan. Sehingga akhirnya jadi salah tingkah, salah langkah, kemudian gagal dalam sebuah kompetisi memperebutkan hati.

Nah, kembali ke dongeng Timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Sebenarnya banyak menyimpan kisah inspiratif kalau tidak ingin dikatakan pesan negatif, kepada kaum jomblo yang berserakan sepanjang Sabang-Merauke dari Miangas-Rote. Pesan tersebut bahkan sudah jelas terasa ketika Timnas andalan kita diputuskan berhak mengikuti Piala AFF 2016. Padahal kala itu Timnas Indonesia baru saja lepas dari sanksi FIFA yang melelahkan. Bayangin aja, Mbloo, setelah lebih setahun lamanya tidak berpacaran, dan masih dalam kondisi kelelahan dan masa pemulihan, tiba-tiba situ dinyatakan lolos seleksi dalam kompetisi memperebutkan hati oleh si Doi dan mesti bersaing dengan playboy-playboy yang sudah punya jam terbang tinggi. Kelabakan gak tuh?

Dan benar saja. Di awal bergulirnya turnamen, sang Garuda langsung dihajar 4-2 oleh Thailand, ditahan imbang 2-2 oleh tuan rumah Filipina, sebelum akhirnya meyakinkan para pendukungnya ketika berhasil mengandaskan perlawanan Singapura dengan skor 2-1, sekaligus memastikan tiket semi final. Keren, kan? Jalan untuk merebut hati si Doi perlahan mulai terbuka, kompetitor mulai berguguran satu per satu, memberi karpet merah kepada situ, si peserta yang datang terlambat karena kebodohan masa lalu yang selalu direproduksi setiap waktu.

Di babak semi final, Garuda dipertemukan Vietnam, lawan yang sebenarnya lebih diunggulkan bandar judi amatiran untuk tampil di partai puncak bersama Thailand. Selalu konsisten dengan filosofi angka “2”—yang memberi pesan bahwa setiap makhluk hidup harus berpasangan—Indonesia di luar prediksi, mampu mengandaskan perlawanan Vietnam dengan skor 2-1 dan 2-2. Kompetitor pun semakin berkurang. Sebaliknya, dukungan semakin mengalir deras ke Timnas Indonesia. Harapan untuk memperoleh trofi pertama itu semakin dekat, harapan untuk memperoleh cinta pertama itu kian hebat. Di laga puncak Indonesia mesti menghadapi pesaing terkuat. Di laga puncak, seorang pemuda sederhana—situ maksudnya—mesti berhadapan dengan pemuda tajir yang mapan secara pengalaman dan keuangan. Sanggup gak ya?

Singkat cerita, pada leg pertama, Timnas Indonesia sempat membuncahkan sepercik harapan kepada para suporter ketika berhasil mematahkan perlawanan Kawin cs dengan skor 2-1 di Stadion Pakansari yang tak ubahnya zona darurat militer itu. Lewat sepasang gol yang dilesakkan Rizky Pora dan Hansamu Yama, peluang Indonesia memperoleh trofi semakin dekat. Peluang situ memperebutkan hati Doi juga semakin kuat. Bisa dikatakan, semuanya tinggal menunggu persetujuan si calon pengantin wanita. Sedangkan yang lain-lain sudah beres. Biaya katering separuhnya sudah dilunasi, termasuk juga biaya sewa tenda, dan honor untuk penghulu. Sampai sini, kehendak Tuhan-lah yang rasanya paling layak menentukan gagal atau terjadinya momen bersejarah ini.

Laga final kedua pun dilakukan di Thailand Sabtu malam kemarin, kalau tidak ingin dikatakan malam Minggu kemarin. Indonesia hadir dengan optimisme tinggi. Di sisi lain, Thailand dibayangi tekanan tinggi karena dihadapi fakta bahwa hanya Indonesia-lah yang bisa menumbangkan dirinya. Tapi itu adalah kisah hari kemarin yang sudah sepatutnya masuk keranjang sampah. Hari ini mereka harus tampil trengginas demi memenangi sebuah Piala berwarna emas.

Dan seperti sudah diduga sebelumnya, Timnas Indonesia tampil keki. Boas dan kawan-kawan banyak melakukan kesalahan kecil yang berujung fatal, sehingga Kawin cs bisa membobol gawang Kurnia Meiga sebanyak dua kali di pertengahan babak pertama dan awal-awal babak kedua. Setelah dihantam dua gol tersebut, selanjutnya bisa ditebak, Timnas Indonesia bermain bak pemuda yang kehilangan arah tujuan akibat ditinggal kawin. Alhasil, Thailand berhasil mempertahankan keunggulan dan mengklaim trofi AFF untuk kali kelima. Di sisi lain, Indonesia harus kembali menenggak jamu pahit pedagang jamu keliling karena kembali gagal mempersembahkan Piala untuk rakyat Indonesia.

Nah, situ sudah bisa memetik hikmah dari kisah Timnas Indonesia di Piala AFF 2016 kan, Mbloo? Bahwa selalu ada telolet dalam sebuah bus saat-saat di mana kita mesti mawas diri dan pandai mengukur diri ketika sedang jatuh cinta pada seorang wanita. Salam baper!

Tentang Penulis

Luthfi Anshori

Luthfi Anshori

Pengukur jalanan Bekasi-Jakarta. Pekerja media. Pengamat status hubungan si dia.