Tips

Main Hati Terlalu Rumit, Ini Game yang Cocok Dimainkan Para Jomblo

Ikram Junaid
Ditulis oleh Ikram Junaid

Saya percaya bahwa kebahagiaan pada dasarnya ialah milik setiap manusia, oleh karenanya izinkan saya untuk berbagi sedikit pengalaman “bahagia tanpa wanita” versi teman saya. Daripada teman-teman jomblo makin geram dengan ulah kaum kapitalis cinta yang semakin merajai panggung percintaan, dan mengakar dari waktu ke waktu. Sebagai penganut paham sosialisme romantis yang menginginkan kebahagiaan adalah milik bersama, berbagi kebahagiaan ialah satu-satunya cara untuk menghilangkan dendam lama kaum jomblo tertindas.

Nah! Tak perlu banyak pengantar, langsung saja saya ceritakan.

Saya bertemu Ortan (bukan nama asli) semasa melaksanakan tugas kuliah lapangan. Sifatnya yang agak kalem, humoris dan baperan, mempunyai pengalaman buruk dalam ketika menjalin hubungan percintaan. Ortan ditinggal pacarnya, putus, dan berakhir jadi mantan. But dia telah menemukan kebahagiaannya kembali.

Pasangan Ortan sekarang tak punya hati dan perasaan, tidak pernah marah dan selalu ada buat dia saat galau. Hal yang perlu saya dan teman-teman jomblo tahu, bahwa bagaimana mungkin sebuah relasi dengan sesuatu yang “tak punya hati dan perasaan” bisa membuat bahagia? Berikut kata Ortan tentang hubungan barunya: “Sebuah mekanisme yang sangat unik, relasi yang tidak memiliki perasaan, tapi mampu memberikan kebahagiaan. Itulah Game.”

Saya berusaha memahami dan mempraktikkan konsepsi yang ditawarkan oleh saudara Ortan dalam kehidupan percintaan. Dan hasilnya sangat manjur terutama bagi para tuna asmara, yang saat ini masih idealis dengan kesendiriannya dan selalu menghujat para kapitalis cinta. Game tak memiliki perasaan pada kita, namun bisa membuat kita bahagia. Game tidak memiliki tuntutan kepada pasangannya, tidak perlu pula menggunakan kata-kata manis, misal kata-kata manis ala Tere Liye untuk mengungkapkan rasa padanya.

Sejak Ortan berpasangan dengan game, sejauh yang saya lihat, teman saya ini tidak pernah galau atau risau terhadap persoalan cinta. Ia memberikan segala kebutuhan dasar manusia untuk bahagia, yaitu kesenangan dan kesengsaraan (kalau kalah dalam permainan). Berikut akan saya uraikan beberapa game yang membuat bahagia sekaligus edukatif.

Game Osu!

Bagi kalian yang sudah pernah bermain game ini pasti sudah sangat tahu keistimewaannya. Dan saya yakin penggemar game ini pasti telah banyak merusak keyboard (tidak seperti kapitalis cinta yang merusak hati para wanita). Lagu yang dimainkan pada game ini dan kelincahan jari memberikan kita sedikit terapi untuk meluapkan kekesalan akibat kalah melulu dari kompetisi percintaan. Setidaknya pada kompetisi Osu!, jika kalah kepuasan batin ada, kamu akan mencoba terus memainkannya.

Persamaan wanita dan game Osu! ialah mereka ingin disentuh pada bagian yang tepat, yang mereka inginkan (jangan ngeres!). Mereka sama-sama menyanyikan lagu dengan indah. Bedanya kalau nyanyian di Osu!, dari telinga sampai ke hati, sedang kalau wanita nyanyi ke hati dulu baru ke telinga, tinggal dengar saja kata-kata kebenciannya, itulah nyanyian terindah seorang wanita.

Pokémon Go!

Pertengahan tahun 2016 kita dihadapkan pada game virtual yang menuntun pemainnya untuk bepergian mencari pokémon yang tersebar di penjuru bumi. Nah! Para jomblo yang sudah akut pasti senang bermain game ini! Monster pokémon mudah ditemukan dan ditangkap, berbeda dengan mencari belahan jiwa yang tak kunjung datang. Bagi saya dan mungkin para pemain Pokémon Go! sependapat, bahwa wanita sekarang ibarat monster langka yang sulit ditemukan dan dijinakkan.

Banyaknya penggemar game ini tidak berpengaruh dengan berkurangnya jumlah moster pokemon, berbeda dengan makin banyaknya kapitalis cinta maka makin sedikit lahan bagi para proletar cinta untuk mendapatkan kasih sayang. Kesenjangan ini tidak berlaku di dunia pokemon.

Konsepsi yang saya tawarkan ini bisa menjadi salah satu alternatif bagi para proletariat asmara untuk berbagi kebahagiaan. Relasi tanpa perasaan, namun mampu membuat kita bahagia. Jika sudah bahagia, lantas apa lagi yang kalian butuhkan?

Sedikit pesan saya, bahwa tingkatkanlah kualitas diri kalian para jomblo. Jomblo berarti sendiri, tak punya pasangan, sama dengan paham individualisme yang berkembang di Eropa pada abad ke-16. Jomblo ialah manusia yang penuh dengan kebebasan, kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan (saudara senasib). Mengutip kata seorang sastrawan Irlandia, Oscar Wilde: Mencintai diri sendiri adalah awal dari percintaan sepanjang hayat.

Tentang Penulis

Ikram Junaid

Ikram Junaid

Manusia yang menuju Renaissance.

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    : D.8.E.B.7.E.6.B