Berita dan Artikel

Meski Kembali, Sesuatu yang Telah Pergi Tak Akan Pernah Sama Lagi

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

Setidaknya itulah yang dikatakan salah satu mantan saya lewat status Facebook-nya. Saya jadi ingin menulis dan menjadikan status Facebook-nya sebagai judul tulisan. Cukup provokatif dan rentan bikin orang baper, saya kira. Kemudian kalian dengan segera mengaitkan antara judul, isi tulisan, dengan perasaan sendiri dan hati yang mungkin sudah tak berbentuk itu.

Mari kita mulai dengan mengingat beberapa peristiwa…

Kita kerap menyaksikan bagaimana dua orang bertemu, lalu berpisah. Bahkan kita juga kerap jadi aktor-aktornya. Perpisahan yang sungguh tak dikehendaki. Bisa karena merasa sudah tidak cocok, atau memang sedari awal sengaja dicocok-cocokkan. Mulai dari persamaan nasib, sampai hal remeh “udah jalanin aja dulu”. Bisa juga karena tak mendapat restu orang tua, atau dia yang belum sempat mengetahui perasaan kita sebenarnya, ternyata Tuhan lebih sayang—hingga maut menjadi sangat jelas di hadapan air mata, lantas kita pun tersadar bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Banyak sebab mengapa dua orang bertemu untuk kemudian berpisah.

Meski kembali, sesuatu yang telah pergi tak akan pernah sama lagi. Buku yang dipinjam, misalnya. Bagi para pencinta buku, mereka mungkin akan sedikit kesal apabila buku yang dipinjam kembali dengan satu dua halaman yang terlepas. Kendati tidak disengaja, ada sedikit rasa tak enak hati dalam diri mereka. Beberapa lekukan di pojok halaman sebagai penanda bacaan juga bisa membuat para pencinta buku keki dengan ulah si peminjam. Buat apa disediakan pembatas, kalau memperlakukan buku yang dipinjam dengan sekehendak hati? Kalau ingin membaca dengan nyaman, kan bisa beli sendiri? Kira-kira seperti itulah bentuk kekesalan para pencinta buku.

Kasus serupa juga sering dialami oleh para perokok. Mereka juga bisa kesal ketika seseorang meminjam korek dan lupa dikembalikan. Beberapa waktu korek itu lantas diakui sebagai hak milik oleh si peminjam. Maka itu, jangan heran jika di kalangan perokok ada orang-orang yang mendapat julukan Curanrek (sebutan yang mirip maling kendaraan bermotor), spesialis pencuri korek, karena saking banyaknya.

Sikap seseorang juga bisa menjadi begitu berbeda, bahkan menjadi serba-salah ketika kita dihadapkan oleh dua hal ini. Pertama, ketika ada teman meminjam uang dan berjanji ingin mengembalikan pada waktu yang telah dia sepakati sendiri. Ingin menanyakan bagaimana kabar uang yang dipinjam, tapi kita percaya bahwa dia adalah orang yang baik dan jujur. Tak mungkin dia ingkar janji. Dan hal yang kedua, yaitu ketika kita tak lagi menjadi bagian dari suatu hubungan atau lingkar pertemanan. Merasa bahwa ada jarak yang terbentang cukup jauh, juga ruang yang gelap dan hitam.

Masihkah kita akan saling mendoakan?

Setelah pergi, kepergian, dan hal-hal yang kurang menyenangkan itu, beberapa peristiwa memang tampak tidak baik sekadar untuk dikenangkan. Hari-hari terasa sulit dilalui, kacau dan suram. Kita pernah mengalaminya dan hal itu tak bisa kita lupakan. Tak apa. Akui saja. Tapi bukankah hari-hari itu sudah lewat? Tak ada guna meratapi kekalahan di masa silam.

Kaitannya dengan asmara, yang namanya “kembali” berarti siap untuk terus patah hati. Sebelum ada perpisahan berikutnya dan dia pergi dari hidupmu, tidak ada salahnya menjaga jarak, apalagi di era canggih macam sosmed ini. Sosial media sudah semakin memudahkan orang untuk bertemu, meski sebatas teks dan tatapan di layar HP.

Apabila percakapan antara kamu dengan seseorang di sosial media mendadak menjadi panjang, teratur, atau malah sudah seperti rutinitas. Hati-hati, jangan gegabah dalam mengambil keputusan. Dua minggu bahkan beberapa tahun berkenalan, bukan berarti dia juga menginginkan hubungan yang serius. Dia mungkin sedikit merasa sepi, lalu kamu datang dengan hati yang siap dipatahkan kapan saja olehnya. Dia mungkin kesepian, tapi tak ingin ada suatu hubungan. Kalian cukup berteman. Berteman, oke? Bukan kamu sebagai ‘lelaki’ atau dia sebagai ‘perempuan’. Karena anggapan seperti itu terlalu suci untuk dua orang yang baru kenal. Coba pikirkan ini baik-baik, kawan.

Cinta mungkin bisa muncul secara tiba-tiba. Namun, butuh waktu lama untuk mengobati hati yang masih terluka. Butuh lebih dari sekadar bahagia untuk diri yang tak ingin sembuh. Lagi pula, banyak hal harus kamu kerjakan. Mimpi yang belum sempat terwujud. Keluargamu dan rumah untuk pulang. Teman-teman yang menyenangkan. Hidupmu selama ini. Ya, banyak hal harus kamu kerjakan. Segera lakukan dan jangan ragu.

Lupakan semua kisah cinta, baik di film-film yang pernah kautonton, buku-buku yang telah kaubaca, kisah yang pernah kau alami sendiri atau belum pernah terjadi. Lupakan. Katakan “selamat tinggal” pada pernikahan karena saat ini kita belum membutuhkannya. Lupakan dia dan dia yang lain yang juga sama mengecewakannya. Tapi berusahalah untuk tetap ikhlas.

Dia dan dia yang lain mungkin menganggap, bahwa kamu adalah seorang tolol yang cuma bisa sembunyi di balik kata-kata. Bahwa ceritamu itu dusta, oleh karena cerita itu tak lain adalah kisah cinta yang gagal. Dia dan dia yang lain mungkin menganggap kamu pecundang, terimalah nasibmu itu. Terimalah cinta dan kehilangan-kehilangannya. Lalu berbahagialah. Berbahagialah!

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.