Berita dan Artikel

Saatnya Jomblo Belajar: Matematika atau Perempuan?

Mas Syah
Ditulis oleh Mas Syah

Banyak yang terus pamer percintaan demi kesadaran yang dibutakan. Apalah artinya pasangan bila tak terpisah dari derita perasaan. Bukankah mencintai berarti harus siap-berani patah hati?

Ini sepenggal kisah kepala yang terbakar lantaran lalai akan pentingnya menjaga keamanan baper di lingkungan jombloisme. Sekedar tanda bahwa kaum jomblo masih dibayang-bayangi hantu perasaan. Belum berani bilang “merdeka” dari mereka yang mendambakan cinta dari lawan jenis. Masih terlalu banyak kaum pasangan yang menganggap dirinya lebih baik dari penghuni situsweb Jombloo. Lantaran kesibukan jomblo itu setiap hari belajar dan memilih terasing.

Ketika Anda tidak memiliki pasangan, namun Anda begitu mencintai seseorang. Arah perjuangan cinta Anda adalah memahami diri sendiri dan menjadi diri sendiri.

Manusia mana tidak linglung? Setiap hari mencari, mencari, mencari pasangan, katanya. Kemudian melegitimasi kata “belum ketemu” dan “akan tiba pada waktunya” sebagai penggambaran sikap kepasrahan batin. Padahal hati sendiri masih diselimuti mahaduka.

Saat menatap seseorang terkenang kembali wajah seorang yang lain, atau seorang yang dulu pernah membuat ia bahagia. Dadanya penuh sesak terkena asap yang tidak pernah diketahui asal-muasalnya. Citra dirinya sebagai penyandang status tahanan perasaan membuatnya kini sok gagah dan teguh secara fisik, namun rapuh secara batin. Tidak mau mengosongkan diri sebesar kosong. Maka sudah saatnya jomblo, sekali waktu belajar dari angka nol.

Memahami arti “kungkungan perasaan” sama peliknya dengan akar matematika; dari rumus Phytagoras, Fibonacci, Geometri, Kalkulus, Algoritma, Aljabar, deret Aritmatika, dan masih banyak lagi—cukup itu saja dulu untuk dipahami bersama.

Kepelikan pemahaman “kungkungan perasaan” dan “akar matematika” jadi alasan kenapa kaum jomblo sampai detik ini tidak pernah terlepas dari soal-soal perasaan yang dihadapi dengan tameng ketakutan. Sama halnya, saat Plato memberikan soal saat mengajar: Matematika atau Perempuan? Ada kemungkinan keduanya membikin seseorang takut lantaran menganggap itu sulit, kemudian pilihan mengantarkan ia ke ruang serbarasa takut. Hati pasrah, raga resah, hanya ada ketegangan-ketegangan dalam mengatasi kesulitan dan ketakutan. Padahal karena menganggap sesuatu itu sulit, dirinya jadi takut.

Mengutip kalimat Enstein, bahwa matematika dibuat oleh manusia sama seperti manusia membuat lukisan atau tulisan. Seperti larik puisi Kuntowijoyo yang berbunyi, aku jatuh cinta / karena matematik. Apakah keindahan bahasa matematika masih jadi kesulitan di kepala yang berakal sehat? Manusia kebudayaan mengolah cipta, rasa dan karsa sebagai kekuatan. Sekali lagi, sudikah Anda menjawab pertanyaan Plato: Matematika atau Perempuan?

Baiklah, mari belajar menjadi penghuni penjara perasaan di bumi manusia. Berikut saya buat beberapa pemahaman matematika untuk Anda:

  • Membaca dalil Phytagoras, pertama-tama sekali, jangan katakan hal-hal kecil dengan banyak kata-kata, tapi katakanlah sesuatu yang besar dengan sedikit kata-kata. Lihatlah sekelilingmu, semakin banyak kau melihat, semakin sedikit bicara, supaya kebodohanmu tidak terlihat. Jika perempuan adalah segitiga siku-siku, sisi A adalah koleksi, sisi B adalah seleksi, dan sisi C adalah resepsi.
  • Semakin besar keinginan Anda menemukan perempuan ideal, pada akhirnya hasilnya adalah proses itu sendiri. Kita bisa memilih buku mana yang ingin dibaca lebih dulu, tapi kita tidak bisa menentukan kapan akan selesainya, atau dengan bahasa lain, tidak pernah tepat pada waktunya. Sebab ada ketetapan yang tidak bisa ditangkap rasio manusia. Pasang sikap sewajarnya, asalkan bebas dari kegelisahan hati.
  • Menjadi jomblo bukanlah titik, ia adalah koma dan garis yang bersambungan. Tiada akhir pada koma dan garis, kalaupun ada, itu ulah manusia sendiri yang tak tahan memahami kesederhanaan perempuan. Proses membersihkan perasaan sebersih nirmala merupakan bagian peristiwa cinta, meskipun akhirnya tetap tidak bersih. Tak ada yang sempurna dari hubungan, jika salah diperbaiki, jika benar diperbaiki, jika tak ada yang diperbaiki berarti hatinya belum ikhlas.
  • Di masa lalu, di hadapan buku yang pernah dibaca tertulis kalimat romantik; kalkulus adalah hasil perjuangan intelektual yang dramatik yang berlangsung selama dua ribu lima ratus tahun. Bukan suatu keniscayaan bagi jomblo, bahwa kemerdekaan adalah hasil manifestasi perasaan mantan-mantan. Yang dulu pernah ingin mendistorsi kejadian pertengkaran dan merasa benar, maka pilihan adalah titik-tolak pencarian daripada tersesat dalam hubungan. Pengalaman mesti diperbanyak, bukan dasar perhitungan kini, seperti kata penyair binatang jalang.
  • Puncak kemantapan seorang jomblo merupakan langkah yang logis guna menyelesaikan masalah perasaan. Kesedihan adalah kendaraannya, menuju Negara yang belum terjajah hatinya. Dan memang tidak mungkin, maka tertawalah alatnya. Tapi ingat, kesedihan bukan perayaan yang mesti diumumkan ke setiap orang. Lebih baik menata diri daripada memecahkan berkeping-keping perasaan ke media sosial sekedar menipu diri. Sesekali bolehlah, asalkan tahu porsinya. Air yang dituang ke dalam gelas, jika airnya penuh, pasti tumpah!
  • Sesuatu yang berlebihan dan kekurangan tidak bisa dianggap baik. Karena lebih belum tentu cukup, kurang belum tentu cukup. Jangan berlarut-larut dalam kedukaan, jangan cepat-cepat menghentikan tangisan. Menangis tidak apa, asalkan punya tujuan, tetapi lebih baik tersenyumlah. Hatimu akan terbebaskan ketika dihadapkan situasi yang tidak pernah Anda inginkan, seperti pada saat sendiri dan temanmu membawa pasangan, dan Anda ternyata tidak lupa membawa buku, lalu membacanya untuk menghibur diri.”
  • Pelajaran akhir sebelum terakhir seorang jomblo antara lain menentukan kebebasan, memetakan persoalan kegundahan hatinya sebagai batu pijakan, mengolah kesedihan sebagai wujud lain kebahagiaan dan menerima kemungkinan selisih dari suatu rangkaian peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian hasil ketetapan. Karena ada polarisasinya, nikmatilah alurnya.

Matematika itu bahasa. Bahasa itu matematika. Jomblo adalah pembelajar. Belajar pada benar dan salah, jangan menyulitkan diri, karena selalu ada rentang tak terbatas antara benar (1) dan salah (0). Jangan meremehkan angka-angka: berpikir dahulu, tertawa kemudian. Bebaskanlah dirimu, entah dengan cara apa pun!

Tentang Penulis

Mas Syah

Mas Syah

Pengembara seni dan sastra, kerap hadir setiap gelaran ibadah kebudayaan di Jakarta dan sekitarnya. Penikmat kopi dan kretek taat. Bisa ditemukan di Twitter tak terkenal: @pengembarasajak

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    : D.8.E.B.7.E.6.B
    !