Berita dan Artikel

Sahabat Menikah, Siapa yang Berubah Sekarang?

Jati Setya
Ditulis oleh Jati Setya

Kamu pasti sama juga denganku, sempat memiliki kawan karib sejak zaman lari-lari telanjang ketika hujan adalah puncak kebahagiaan dunia. Banyak orang lalu menyebutnya sebagai sahabat. Pidi Baiq bilang, “Sahabat adalah dirimu yang kedua.” Lantas, bagaimana jika dirimu yang kedua ‘meninggalkanmu’ untuk nikah duluan?

Jadi begini.

Belum lama ini, ikrar suci dua sejoli telah diucapkan olehnya, sahabatku. Aku hadir di pernikahannya, walau sekedar menjadi saksi dan berucap doa. Ia telah resmi menjadi nyonya baru sekarang. Aku turut bersenang hati. Namun, rasanya ada keganjilan lain. Bukan. Bukan karena aku ditinggal nikah dalam kondisi ‘sendiri’ seperti ini. Hanya saja, aku merasa bahwa ternyata pernikahan tak melulu memberi kebahagiaan, namun juga kehilangan.

Baiklah, biar kuperjelas.

Jadi, semenjak ikrar suci itu didengungkan, bahkan jauh hari sebelumnya, aku merasa sahabatku telah mulai banyak berubah. Ia tak lagi punya waktu untuk menggelar kuping atas semua cerita dan keluh kesah. Tak ada lagi suap kebersamaan, teguk kesedihan, keping masa lalu, curahan masa depan, dan hal-hal lain yang biasa kami bagi. Dia yang dulu entah kemana. Hilang.

Batas itu kini nyata. Dunia kami telah berbeda. Tak bijak rasanya jika aku lantas berteriak, bahwa momen sakral bernama pernikahan itu sebagai keladinya. Betul bahwa “ya” dan “tidak” suami menjadi hal prinsipil bagi sahabatku kini, yang sekaligus merupakan konsekuensi atas sebuah pernikahan. Namun, tak lantas harus begini kan?

Berapa kali lagi ia harus membatalkan janji yang telah dibuat? Berapa kali pula ia menjadikan suami sebagai dalihnya? Sebegitu sibukkah dia yang kini sudah menikah? Tak ada waktu lagi kah? Ah, bisa jadi aku berteriak lantang begini karena belum merasai jenjang itu. Mungkin.

Namun, jika memang pernikahan harus ditebus dengan rasa kehilangan yang lain, rasa abai pada sahabat misalnya, aku merasa ini tak adil. Bagiku, kesalahan bukan terletak pada pernikahan, namun pada pelaku. Iya, sahabatku bersalah dalam hal ini. Tapi sudahlah, dunia kami sudah berbeda. Urusan kami sudah berlainan.

Anggap saja lewat kejadian ini, Tuhan ingin bilang padaku bahwa kebersamaan adalah perkara mahal yang tak pernah bisa terbeli. Maka, jangan kausia-siakan kejombloanmu. Kira-kira begitu kata Tuhan. Iya, jangan menyia-nyiakan kejombloanmu. Bukankah jomblo adalah simbol kebebasan?

Jika kamu tahu, kebebasan sungguh memberi banyak kesempatan untuk bisa bersama dengan orang-orang terdekat, dengan sahabat. Kita tak perlu menunggu kehilangan untuk bisa menyadari berharganya sesuatu. Selama kebersamaan masih membersamai kalian, gu-na-kan-lah. Kita tak pernah tahu kapan akhir sebuah kebersamaan akan bermula. Membersamai kebersamaan dengan hati dan segenap rasa adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Dia yang kini sudah ‘tiada’ biarlah saja. Toh jika ia memang bagian dari kita, pastilah akan kembali. Barangkali saja ruang adaptasi memang membutuhkan waktu yang lebih untuk bisa menerima perubahan ini. Bukan sahabat jika ia selalu baik-baik saja. Persahabatan tanpa tengkar dan tikai rasanya kok hambar. Tak sedap. Sahabat juga butuh perbedaan demi perbedaan untuk saling mendewasakan.

Sampai di sini aku ingin bilang padamu, wahai sekalian jomblo, para calon pengantin masa depan. Kelak, jika kamu sudah sampai pada masa pelepasan masa lajang, jangan pernah berubah. Tetaplah ada untuk sahabatmu. Karena dimana pun dan hingga kapan pun, tak akan pernah kautemui, mantan sahabat.

_________________________________________
*naskah ini diikutsertakan dalam lomba #NyepikinTemen

Tentang Penulis

Jati Setya

Jati Setya

Jati Setyarini. Jomblo harapan mertua. Cinta Allah, Rosul, dan kamu.