Berita dan Artikel

Siapakah yang Lebih Nista? Sebuah Pledoi untuk Kaum Berpasangan

Benny SR
Ditulis oleh Benny SR

Segala sesuatu yang disinyalir membawa keburukan, dalam budaya bangsa ini biasanya berakhir dengan cara diruwat. Kalau mau disebut dengan cara frontal, mungkin bisa dinamakan dengan istilah buang sial. Tentu diperlukan cara yang benar dan tak main-main. Ada bacaan-bacaan tertentu misalnya, atau sajian kembang tujuh rupa dan mungkin perlu ditambah sesaji kepala kerbau yang harus dilarung ke lautan. Tapi jika kamu berada pada posisi dimana kamu menyandang tuna-asmara dan dinistakan. Apakah ritual ruwatan juga mesti dilakukan untuk buang sial terhadap nasib yang tengah dijalani?

Saya punya tiga kawan baik, dua laki-laki dan satu perempuan. Kami ditasbihkan dalam nasib asmara yang tak bahagia-bahagia amat. Entah sudah ditakdirkan atau nasib atau bagaimana, kami hampir selalu merajut kerumitan hubungan percintaan lawan jenis dengan cara LDR. Ya tentu saja sampeyan semua pasti sudah bisa menduga kisah asmara kami akan berakhir seperti apa. Betul! Cerita itu hanya tersaji dalam curhat-curhat massal mengenaskan penuh air mata di pojok-pojok kedai kopi langganan kami. Kemudian memunculkan semangat untuk sementara berada pada jalan selibat.

Kami berempat kadang dirisak (bully) oleh kawan-kawan yang lain. Bahwa salah satu di antara kami membawa sial untuk tiga yang lain, kemudian salah satu dari kami tersebut itu harus diruwat atau bahkan kalau perlu malah dirukiah sekalian. Agar paling tidak, kami segera bisa membuka takdir baru dalam jalinan pacaran dan kemudian berakhir dalam resepsi pernikahan. Tentu saja kambing hitam itu biasanya selalu dituduhkan pada saya. Tapi bukan berarti tiga kawan saya yang lain itu luput dari dugaan-dugaan. Tapi ya lebih seringnya tetap saya yang menjadi pesakitan sih.

Jancuk!

Tentu boleh-boleh saja kawan-kawan itu berpikir demikian. Bahwa salah satu di antara kami dituduh membawa hawa negatif yang harus dibersihkan untuk menetralisir keadaan nasib asmara yang tak kunjung ketemu ujung pangkalnya. Tapi terkadang kawan-kawan itu aneh, salah dua atau salah tiga dari golongan perisak macam mereka ini, sering merajuk menye-menye pada saya: “Aku iri sama kalian berempat. Bisa selalu kumpul. Kompak.” Blablabla.

Saya jadi curiga pada kawan-kawan ini, jangan-jangan ada sebentuk rasa sesal setelah pacaran atau menunaikan pernikahan. Sehingga mereka iri dan hanya mampu mengingat indahnya masa-masa melajang. Lantas untuk mengobatinya, kawan-kawan itu hanya mampu merisak dan menista kami berempat sedemikian masif. Padahal mungkin saja, ketika kawan-kawan ini asyik merisak, sebenarnya mereka tengah duduk kesepian di pojok kamar dengan lampu temaram, sedang pasangannya lagi sibuk di pinggir jalan raya sambil teriak: om telolet om. Mengharukan!

Salah dua atau salah tiga dari para kawan-kawan perisak itu, kadang malah sering menghubungi saya. Sekedar butuh pendengar untuk mengutarakan gejolak hati yang melodramatis. Menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri, membicarakan kebosanan dalam berpasangan, bahkan meluapkan keraguan apakah pasangannya itu benar-benar cinta sejati. Saya jadi bertanya-tanya, lantas apa guna mereka punya pasangan? Kalau tiba perkara hati yang bergejolak, para kawan perisak itu justru kabur mencari kaum-kaum jomblo macam saya dan tiga kawan saya yang lain itu sebagai tambatan puk-puk. Hina betul mereka ini!

Sekarang muncul pertanyaan. Siapakah yang sebenarnya lebih pantas dirisak dan dinistakan? Kami berempat yang jomblo-jomblo tambatan puk-puk, atau kawan-kawan perisak yang berpasangan tapi pura-pura bahagia itu? Satu hal yang penting dan harap diketahui, kami (saya dan tiga kawan baik saya) bisa BAB dengan tenang dibanding mereka (para perisak) yang harus buru-buru menyudahi berak, karena takut sang pacar marah karena menunggu lama balasan chatting.

Tentang Penulis

Benny SR

Benny SR

Pengagum Poppy Sovia. Pejuang LDR

  • maria handayani

    P`0`K`E`R`V`1`T`A
    : D.8.E.B.7.E.6.B
    @@maria_handayani:disqus