Curhat

Tuhan Bersama Orang Baper yang Gengsi Bilang Kangen

“tak ada lagi cinta,” bisikmu
padahal acap kali aku menyerumu
kuikhlaskan hati, walau
abai dan tak sampai padamu

Karena perhatian setitik, muncul haru sebelanga. Pembaca yang berbudi pekerti luhur, perkenankan saya menceritakan sebuah kisah yang mungkin akan membuat Anda berubah pikiran ketika akan baper: bagi perhatian. Lho kok definisi bapernya berbeda? Lho ini kan cerita saya, masa pakai definisi baper dari orang lain? Sangat tidak keren sekali, saudara! Harap maklum dan bisa Anda mengerti. Semoga Tuhan membalas dengan banyak kebaikan.

Sebuah kisah yang akan saya ceritakan ini boleh dianggap kisah nyata atau kisah khayal seorang pengangguran. Bebas. Kapan ceritanya? Ah bawel lu!

***

Alkisah pada suatu hari yang indah, seorang pemuda bernama Yode (bukan nama sebenarnya) sedang asyik bergumul dengan komputer jinjing yang bututnya setarikan napas dengan chat ke gebetan yang tak kunjung dibaca. Yode, pemuda nyaris sederhana—antara kere dan tawadu. Pembawaannya tenang, namun gugup saat mengejawantahkan panjang tali jemuran dengan jumlah cucian yang akan dijemur. Hobinya menulis. Menulis entah puisi, entah prosa, entah esai. Singkatnya, menulis “entah” adalah jalan ninjanya. Menulis bagi Yode adalah jihad untuk buku yang sudah ia baca. Sungguh mulia, walau ditinggal nikah dua kali.

Singkat cerita, Yode menerima sebuah email berisi curahan hati dari seorang pembaca tulisannya. Sebut saja Aray (bukan nama sebenarnya). Perempuan yang lagi lucu-lucunya dan bikin kesel setengah mampus. Aray merasa baper. Ia terbawa perasaan setelah membaca salah satu puisi yang dipublikasi di laman blog Yode. Aray merasa melihat dirinya dalam puisi yang berisi: kalau cinta ya cinta saja, ia sekadar hidup lebih lama dari nyawa pecintanya.

Aray menumpahkan seluruh perasaannya tanpa terkecuali, semuanya kepada Yode. Tak pelak, pemuda nyaris sederhana—antara kere dan tawadu—yang dikutuk berharu besar itu pun merasa bersalah. Tulisannya, meski tak ditujukan buat siapa-siapa rupanya telah membuat seseorang sedih. Maka Yode pun mempertanggungjawabkan rasa bersalah itu dengan membagi perhatian kepada pembacanya itu.

Beragam kalimat filsafat, quotes Mario Tegar yang tersohor, cerita dan hadis nabi, ia kutip dalam email balasan untuk Aray. Kalau dalam istilah pepatah Pondok Bambu, “Sekali melempar goceng di warung Mbak Sum, secangkir kopi dan bakwan tersaji”. Aray menerima wejangan atau sentuhan kalbu Yode dengan tidak biasa. Aray merasa abad kegelapan hidupnya telah tersibak oleh komunikasi intensif antara dirinya dengan Yode.

Hari ke hari, belum genap sebulan sih, Aray memberi kode bahwa dirinya siap dibuahi. Eh, maksudnya dibahagiakan secara sah dengan “Aku cinta kamu – aku juga cinta kamu”. Namun, Yode pemuda nyaris sederhana kadung mencintai buku. Bagi Yode, buku tak pernah mengkhianati, tak seperti manusia.

Dengan gampang Yode bilang ke Aray, “Cinta perempuan sudah kudapatkan dari ibuku, dan buku filsafat, dan buku sastra, dan buku tabungan sudah cukup membuatku orgasme. Jadi, sebelum pedang cinta yang halus itu mengiris putus urat lehermu baiknya kaulepaskan hasrat mencintaiku, Aray. Maaf, aku tak bisa.”

Mendengar itu Aray merasa kiamat kubro mendatanginya, abad kegelapan yang dulu kembali menggelayuti hidupnya. Akhirul kisah, begitulah baper. Bagi perhatian dan bawa perasaan, mengandung petaka yang tak diketahui siapa korban dan siapa pelakunya.

***

Pembaca yang berbudi pekerti luhur, nahas benar waktu Anda tidak berfaedah lagi sia-sia membaca cerita nggak mutu blass! Jujur, saya takjub Anda benar-benar berbudi pekerti luhur, tidak marah dan memaki. Sungguhlah Tuhan akan menghadiahkan surga dengan cuma-cuma kepada Anda sekaligus.

Tapi baiklah, semoga puisi saya ini bisa mengubah waktu yang tak berfaedah lagi sia-sia tadi menjadi lebih bermanfaat bagi seisi alam semesta. Cekidot...

NB: Aku kangen kamu. Hufft.

Pondok Bambu, 11 Desember 2016

Tentang Penulis

Astrajingga Asmasubrata

Astrajingga Asmasubrata

Gondrong sejak dalam pikiran! Buku puisi terbarunya adalah Ritus Khayali. Berdedikasi tinggi untuk membahagiakan istrinya kelak. Buku antologi puisi ketiga terbit 3 Maret 2017. Buku tersebut dipersembahkan untuk ibunya. Dapat disapa di Twitter @edoy___ atau IG @aaedoy. #SalamKretek