Curhat

Berdamai dengan Masa Lalu, Sekali Lagi

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

Bermula dari nasihat guru bimbingan konseling semasa SMP dulu, lantas saya melabeli diri sebagai seorang “mantan playboy”. Banyak orang tidak percaya akan hal itu. Masih jadi playboy, ya, inilah yang selalu mereka katakan menyoal saya.

Sebenarnya semua itu sudah tertulis di buku saya, “Catatan Mantan Playboy”. Tapi karena saya sadar “Catatan Mantan Playboy” tidak dapat menjangkau semua pembaca di Indonesia, maka saya mengulangnya lagi dalam bentuk tulisan yang jauh lebih pendek. Jika kamu merasa—sampai kalimat ini kamu baca—bahwa seseorang tidak dapat berubah, saran saya tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Karena tulisan ini bukan untuk orang-orang yang menganggap bahwa rokok itu merusak kesehatan, tapi junkfood, seafood, msg, dan lain-lain tetap mereka konsumsi dengan nikmat. Ya, dengan nikmat!

Mau belajar memahami masa lalu seseorang? Jika mau, silakan lanjut membaca…

Waktu itu saya baru pertama kali pacaran. Saya begitu semangat dalam belajar, apalagi datang ke sekolah sekadar untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang siswa. Rasanya waktu itu saya ingin tersenyum dan bilang kepada semua orang: jatuh cinta tak pernah sia-sia.

Dua bulan memendam perasaan sendiri, lalu hanya dalam waktu tiga minggu hubungan itu pun berakhir. Ia meminta putus lantaran saya tak tahu apa itu kangen. Malam itu ia sedang belajar. Saya merasa telepon dari saya mengganggu waktu belajarnya. Ia bilang, bahwa saya tak kangen dirinya. Telepon langsung ditutup dan beberapa hari kemudian kami putus. Sekonyol itu.

Saya dan pacar pertama akhirnya putus juga. Tak ada senyum yang saya tunjukkan untuk semua orang, bahkan untuk diri saya sendiri. Nilai-nilai di hampir semua mata pelajaran turun drastis. Saya yang saat pacaran begitu bersemangat dalam melakukan banyak hal, lantas berubah menjadi laki-laki pecundang sekaligus pembenci. Jatuh cinta hanya untuk orang-orang yang beruntung, pikir saya waktu itu.

Setelah putus, saya dan mantan pacar pertama tidak lagi saling sapa. Sikapnya menjadi agak dingin. Keputusan sepihak darinya lalu mencapai titik di mana saya harus menyelesaikan semua. Setidaknya, saya tidak terkatung-katung lagi dalam kebingungan.

Saya teringat guru bimbingan konseling yang mempersilakan murid-murid yang punya masalah untuk berbagi cerita dengannya. Bertemulah kami di ruang BP. Kemudian ia meminta seorang siswi untuk memanggil mantan pacar pertama saya. Di bilik konsultasi itulah saya dan mantan pacar saya bertemu lagi, dengan guru bimbingan konseling sebagai moderator diskusi.

Meski sudah sepakat untuk tidak saling bermusuhan, saya justru semakin bingung. Mantan pacar pertama saya lebih banyak ngomong, sementara saya lebih banyak diam dan mengalah. Ia pergi dari ruang BP. Guru bimbingan konseling itu lalu berkata kepada saya, yang intinya kalau dengan pacaran kamu jadi semangat belajar, selalu mampu memotivasi diri untuk melakukan hal-hal besar dan hebat, putus ya tidak perlu kalut. Tak perlu patah hati dan sedih berlarut-larut. Cari pacar saja lagi. Selesai. Enggak susah kan?

Benar. Menyembuhkan luka akibat ditinggal seorang pacar tidak lagi jadi hal yang sulit buat saya. Enggak susah selama mau berusaha.

Tapi nasihat tidak melulu menghasilkan kebaikan. Setiap putus, saya yang lebih dahulu mudah untuk move on tinimbang mantan-mantan pacar saya, walau toh mereka bisa move on juga. Bukannya jadi baik, sampai sekarang stigma yang muncul adalah saya itu playboy, senang gonta-ganti pasangan, bajingan, tukang selingkuh, dan label negatif lainnya. Saya berusaha menerima anggapan itu, selayak berdamai dengan masa lalu.

Hingga pada tahun 2012 saya mulai belajar menulis dan menyebut diri sebagai “Mantan playboy”. Nasihat guru bimbingan konseling semasa SMP dulu membuat saya mampu bertahan sampai detik ini, walau tidak untuk cari pacar lagi. Ya karena mantan pacar saya banyak, dan betapa menyedihkan untuk ditulis ke dalam sebuah buku yang sama menyedihkannya.

Pada waktu yang tak pernah kamu ketahui, kamu hanya bisa berusaha. Orang-orang di sekitarmu terus bergerak maju, meninggalkanmu, membiarkanmu menjadi sampah atau kau harus puas jadi pemakan bangkai. Di awal tahun baru ini saya berusaha berdamai dengan masa lalu, sekali lagi.

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.