Berita dan Artikel

Jangan Cengeng, Nabi juga Pernah Patah Hati

Wawan Arif
Ditulis oleh Wawan Arif

Saat memasuki zona pergantian tahun, rasanya semakin banyak yang harus dirayakan. Salah satu yang juga perlu dirayakan adalah kerinduan. Lalu, jika rindu itu adalah pada sosok yang sudah tiada, bagaimana cara merayakannya? Salah satunya, kenanglah segala hal tentang kisahnya, setidaknya di hari ulang tahunnya.

Contoh nyata dari kalimat-kalimat pembuka tadi adalah maulidan, Maulid Nabi Muhammad SAW. Saya kira ini momentum paling strategis untuk kita secara kolektif mengingat sosok paling teladan di sepanjang sejarah peradaban: Muhammad. Teladan itu memberi contoh melalui perbuatan, kelakuan, sifat, dan seterusnya. Dalam segala hal.

Muhammad hidup pada puluhan abad lampau. Zaman bergerak, persoalan manusia telah beranak-pinak. Tapi, adakah persoalan kekinian yang terlewatkan oleh keteladanannya? Jangan-jangan soal cinta. Ah, Muhammad tentulah pribadi yang penuh dengan cinta. Atau soal patah hati? Nah, bisa jadi. Mosok iya, ada wanita yang berani menolak lelaki pilihan Tuhan?

Sejak kecil, melalui mata pelajaran Agama di sekolah dan pengajian-pengajian yang pernah saya ikuti, tentang kisah cinta Muhammad saya hanya langsung tahu bahwa Muhammad akhirnya menikah dengan Khadijah. Saya sempat mengira, Khadijah lah cinta pertama Muhammad. Sampai akhirnya saya membaca buku berjudul “Muhammad” karya Martin Lings.

Dari buku yang ditulis berdasar sumber-sumber klasik dan juga sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia itu saya baru tahu bahwa sebelum menikah dengan Khadijah, Muhammad pernah jatuh cinta. Dan sepertinya itulah cinta pertama Muhammad. Sayangnya, cinta pertama Muhammad bertepuk sebelah tangan. Lalu, siapakah wanita yang menjadi cinta pertama sekaligus mematahkan hati Muhammad?

Namanya adalah Fakhitah, putri dari paman sekaligus pelindung Muhammad sendiri, Abu Thalib. Dikisahkan di buku itu, keduanya, Muhammad dan Fakhitah sebenarnya sama-sama saling jatuh cinta. Hingga akhirnya Muhammad pun memberanikan diri membicarakan keinginannya ke Abu Thalib untuk memperistri Fakhitah. Namun, Abu Thalib punya rencana lain.

Di saat yang hampir bersamaan, ada seorang pria kaya sekaligus penyair berbakat bernama Hubayrah, telah menyampaikan pinangannnya terhadap Fakhitah kepada Abu Thalib. Hubayrah berasal dari keluarga Bani Makhzum, pemegang kekuasaan pada saat itu. Di waktu sebelumnya, keluarga Bani Makhzum pernah mempersilakan anggota keluarganya untuk dinikahi oleh salah satu anggota keluarga moyang dari Abu Thalib. Jadi, Abu Thalib memutuskan untuk “membalas budi” kepada keluarga Bani Makhzum.

Soal membalas budi dan kebaikan kepada keluarga Bani Makhzum itulah yang dijelaskan Abu Thalib kepada Muhammad, agar Muhammad paham mengapa Abu Thalib tidak mengizinkan Muhammad menikahi Fakhitah. Muhammad pun menerima kenyataan ini dengan lapang dada. Muhammad memilih bersikap tegar dan berprasangka baik bahwa dirinya mungkin belum cukup siap untuk berumah tangga.

Hingga akhirnya, berjodohlah Muhammad dengan Khadijah, wanita yang punya pengaruh kuat di bidang perdagangan dan politik, dua elemen penting yang ternyata sangat men-support Muhammad memasuki etape-etape terpenting dalam fase kenabiannya. Dalam banyak kajian sejarah, Khadijah selalu disebut dengan sebutan-sebutan yang luar biasa: remarkable, honorable, faithful, the brave, dan semacamnya.

Amul Huzni

Cinta Muhammad kepada Fakhitah dirasakannya sebelum masa kenabiannya. Jangan-jangan, itu cinta monyet saja? Saya kira cinta monyet tidak berpikir dan bertindak hingga memutuskan melamar segala. Dan yang mengejutkan, dalam beberapa riwayat disebutkan: setelah Fakhitah menjanda dengan 4 anak, Muhammad—yang tentu saja sudah memasuki masa kenabian—kembali melamarnya. Dan lamaran itu tertolak lagi. Muhammad menghormati keputusan Fakhitah yang kali ini karena merasa tak mampu menjalankan fungsi strategis sebagai istri seorang nabi.

Beberapa pelajaran lagi dari hal ini. Pertama, cinta yang sebenarnya itu tidak mudah hilang. Kedua, cinta dan patah hati itu sebenarnya bisa untuk tidak dilawan. Ketiga, kita bisa patah hati berkali-kali, bahkan oleh satu pihak yang sama, tapi hal itu tidak harus menghilangkan hal-hal besar dan hebat dalam diri kita.

Kembali ke kisah awal. Jika kita cermati, yang lebih tepat disebut sebagai pematah hati Muhammad adalah Abu Thalib. Keputusan yang terjadi adalah keputusan Abu Thalib. Hebatnya, tak ada sikap yang berubah dari Muhammad kepada sang paman yang sangat dihormatinya itu. Tak heran, saat Muhammad memasuki masa kenabian, Abu Thalib dikenal sebagai pelindung utamanya.

Hingga di tahun ke-10 masa kenabian Muhammad, Abu Thalib kembali “mematahkan hati” Muhammad. Di tahun 619 Masehi itu Abu Thalib meninggal dunia. Di tahun itu pula, Khadijah juga meninggal dunia. Mungkin justru inilah patah hati Muhammad yang sebenarnya. Sampai-sampai, sejarah menyebut tahun meninggalnya dua orang yang sangat berpengaruh pada kehidupan pribadi dan kenabian Muhammad itu dengan “Amul Huzni”, tahun kesedihan, tahun dukacita. Bila sejarah sudah menuliskan demikian, bisa dibayangkan betapa sedihnya Muhammad. Betapa tak ada apa-apanya patah hatinya, saat keinginannya pada cinta pertamanya dulu tak terealisasikan.

Namun, saya meyakini, sepatah hati apa pun, sesedih apa pun, Muhammad tak butuh waktu lama untuk segera bangkit dan move on. Mungkin ya hanya di tahun itu saja. Selanjutnya, hidup dan perjuangan pun harus terus berjalan.

Sholawat dan salam untuk Muhammad.

Tentang Penulis

Wawan Arif

Wawan Arif

Pemerhati kisah cinta dan asmara.