Berita dan Artikel

Jomblo Pasti Berlalu

Putri Khalidah
Ditulis oleh Putri Khalidah

Kata orang-orang, jomblo itu kondisi simbolis di mana sampeyan ndak punya pasangan. Sehingga mengakibatkan kehidupan sampeyan tidak diliputi selimut kebahagiaan. Yah, juga tidak memperoleh kebahagiaan di bawah selimut.

Ketika saya scroll akun-akun humor, sering kali jomblo dijadikan bahan cyber bullying dan patut dikasihani. Semakin mendukung afirmasi bin doktrinasi diri setiap insan jomblo, bahwa tak punya kekasih hati merupakan penderitaan yang paling mendasar.

Sayangnya, sedikit dari kita yang cukup berprinsip untuk ‘biasa aja’ berstatus jomblo, dan mencoba eksplorasi kebahagiaan-kebahagiaan baru. Perilaku bergerombol kemana-mana, bahkan sekadar untuk ke toilet sekolah, membuat kita tidak cukup mandiri menghadapi persoalan selanjutnya. Termasuk persoalan isu jomblo ini.

Isu yang begitu menguat mengalahkan humor sehat. Apa iya menjadi jomblo tidak sebahagia itu?

Jangkauan gadget semakin merakyat. Orang tua rela mengganti waktu bermain anak di luar, dengan sebuah gadget mahal. Internet pun bisa mereka akses semudah-mudahnya. Walau ada layanan Child Mode untuk menghindarkan Sang Buah Hati dari konten porno, tapi tidak dari konten jomblo.

Sekarang anak berseragam sekolah putih-merah pun sudah bisa ber-Ayah-Bunda, ber-Papa-Mama, menunjukkan bahwa mereka telah berupaya untuk menyelamatkan diri dari status jomblo. Isu ini sudah mengakar hingga tingkat bocah. Sabar ya, Mbloo. Hidupmu penuh tekanan isu.

Ada pula orang-orang yang tak ingin ‘dihinakan’ sebagai jomblo—padahal ya jomblo—, mencatut diksi asing yakni sebagai seorang ‘single’. Padahal secara makna mendasar, jomblo dan single adalah kondisi di mana sama-sama tidak memiliki pasangan.

Mereka yang mengaku ‘single’ adalah kumpulan orang yang memilih untuk tidak berpasangan dulu—demi misi lain dalam hidupnya. Pencapaian prestasi dan karier, misal. Tapi menampik pun percuma, mereka yang mengaku ‘single’ pun memiliki sisi-sisi kesepian dalam hidupnya. Hampa tanpa sebelah hati lain.

Mbloo, hidup ini kompleks. Kalau memang belum ada pasangan, mbok ya ojo stres sampai mau bunuh diri. Persoalan dalam hidup bukan tentang memacari Si Doi aja. Tapi gimana setelah sampeyan dapatkan hatinya, sampeyan bisa berguna. Gimana sampeyan punya pencapaian yang bikin sampeyan dan doi bahagia? Gimana sampeyan mapan dalam ekonomi? Sampeyan jangan sampai malu-maluin. Jomblo bukan seorang yang hanya ingin segera halal untuk melampiaskan nafsu, lalu tak bertanggung jawab.

Untuk bisa melakukan itu semua, sampeyan perlu belajar. Belajar nggak perlu tinggi-tinggi lah sampe S3, atau sampai ke luar negeri. Selama sampeyan punya prinsip belajar, darimana aja sampeyan bisa dapatkan ilmu kehidupan.

Abaikan saja isu jomblo yang membombardir perasaan sampeyan. Toh itu cuma isu, akan segera berlalu. Orang-orang akan segera bosan dan mengabaikan humor yang segera menjadi receh itu. Untuk sekarang, sebelum sampeyan benar-benar mampu menghabiskan sisa hidup berdua dengan pasangan, mapankanlah diri. Jadilah jomblo berkualitas, yang siap lahir dan batin, kapan saja ketika diuji calon mertua.

Jomblo pasti berlalu. Jomblo adalah fase kehidupan yang harus kita syukuri. Sendiri tanpa pasangan akan menempa kita jadi lebih mandiri menghadapi persoalan.

Salam saudara seperjombloan.

Tentang Penulis

Putri Khalidah

Putri Khalidah

Masih jadi buruh tulis yang suka pencitraan di instagram.