Tips

Pacaran Bukan Prioritas

Andika Wahyu Putra
Ditulis oleh Andika Wahyu Putra

Setelah menjalani kehidupan 18 tahun lamanya, aku sadar bahwa banyak kejadian yang membuat hidup terasa indah. Banyak sebab, namun karena aku masih muda, segala sebab itu bisa berpusat pada satu sebab yakni pacaran atau “cinta-cinta-an”. Tentu saja aku setuju jika cinta dapat menjadi alasan paling membahagiakan yang pernah tercipta demi melangsungkan kehidupan. Jomblo pun berhak beralasan seperti ini meskipun yah…, jomblo.

Namun, piye ya? Sebagai anak yang baik, aku mendengarkan tiap butir nasihat orang tua mengenai cinta. Mereka berpesan, “Nak, nggak usah mikirin cinta dalem-dalem. Nek kamu sukses cewek datang sendiri,” Aku berasumsi bahwa nilai dari apa yang orang tuaku sampaikan bukanlah menjadi orang yang sukses dalam hidupnya (tapi mungkin ini sih yang dimaksud orang tua), melainkan prioritas. Ya, prioritas, di mana orang tua mengharapkan aku memprioritaskan belajar dan berusaha pada kuliah ketimbang mikirin cewek.

Yah namanya juga anak muda, sering kesandung masalah pacaran, cinta-cinta-an, apalagi umuran segini rentan baper. Nggak percaya? Nih, biasanya yah, seorang cowok tuh baper ketika ada seorang cewek curhat. Padahal curhatannya itu enggak bikin hidup si cowok jadi makmur, sentosa, dan sejahtera. Tapi nggak apa-apa sih, kan di situ seninya.

Jadi begini loh, dengan berat hati, nasihat hidup sukses orang tua akhirnya lama-lama menjadi samar. Namun, tidak untuk nilai prioritas yang aku pun makin yakin akan hal ini pada sebuah cinta-cinta-an.

Demi memperjelas makna cinta, maka aku berkonsultasi pada kakak tingkatku yang banyak membimbing pada kuliah filsafat dan persoalan hati. Dia mengatakan, bahwa cinta yang bersama mengusahakan kebahagiaan ini dapat berhasil ketika komunikasi terjalin dengan baik, secara langsung maupun tidak langsung. Sontak aku langsung berpikiran, jika komunikasi kedua insan saling sayang ini terjalin dengan baik ketika mereka saling memprioritaskan. Nah loh, berarti cinta perlu diprioritaskan?

Kembali remaja 18 tahun ini gelisah. Pasalnya, selain dihadapkan pada pilihan prioritas antara karier dengan asmara, yang mana masih harus dirumitkan pada suasana ketika kekeh memilih prioritas asmara karena harus melibatkan hubungan timbal balik sistem prioritas, harus terjadi kausalitas timbal balik dari subjek ke objek dan sebalikanya dan berjalan begitu terus. Adapun pertanyaan yang menghadang seperti “Siapa yang akan kauprioritaskan?” atau “Yakin kauprioritaskan dia?” dan pertanyaan skakmat “Apakah dia memprioritaskanmu?” Kelar idup loe…

Ketika seorang cowok menemukan seorang cewek, dan cowok itu mengatakan bahwa dia bertemu lalu naksir lalu kenalan lalu suka tanpa disertai dan diperkuat oleh alasan yang logis, maka sesungguhnya ia sedang dihadang oleh persoalan ke-prioritas-an. Mungkin banyak cowok telah memutuskan untuk memprioritaskan ceweknya secara tidak sadar, terlihat dari perubahan perilaku kehidupan mereka sehari-hari. Contoh paling gampang, di mana mereka langsung menyalakan smartphone ketika bangun pagi hanya untuk mengecek apakah ada pesan dari ceweknya. Yang biasanya bangun tidur ku terus mandi, tidak lupa menggosok gigi, habis mandi kutolong ibu, membersihkan tempat tidurku yang mengandung ke-prioritas-an terhadap bakti pada orang tua, harus bergeser pada ke-prioritas-an terhadap ceweknya.

Sedikit pun aku tidak menyalahkan pergeseran itu, karena setiap remaja mengalami hal itu (termasuk penulis). Namun seiring berjalannya waktu dan banyaknya nasihat-nasihat asmara yang kuterima, sekarang ini, aku kasihan melihat pribadi yang tidak mendapat prioritas balasan ini. Mereka hanya memprioritaskan, tetapi tidak diprioritaskan oleh lawan jenisnya. Melas kan pribadi ini menghabiskan waktu dan segala sesuatu untuk memprioritaskan lawan jenisnya, padahal ini kan tentang keberhasilan cinta, tapi kok berjuang sendiri?

Bayangkan saja dengan dua orang yang sedang ngobrol. Obrolan mereka makin menarik karena ada landasan saling memprioritaskan guna mendapatkan informasi dari satu sama lain. Terus kalau cuma satu doang yang memprioritaskan, berarti kamu lagi ngomong sendiri, ngga ada lawan bicara. Nah loh, nanti dianggap orang gila. Hih!

Akhirnya aku harus berpikir ulang dari pelbagai probabilitas yang mungkin saja terjadi. Seperti halnya, ketika aku memprioritaskan seseorang berarti secara tidak langsung aku sudah menolak segala sesuatu yang harusnya kudapat di luar lingkup asmara. Karena ketika aku menjalani rutinitas, aku harus memikirkan dia, bahkan misal ada sebuah kesempatan yang tak akan datang dua kali dalam bidang karier ataupun studi. Harus kupertimbangkan dahulu dengan pertimbangan akan dirinya dan biasanya berakhir begitu saja. Hingga suatu hari kamu berpikir, “Apakah kamu juga memikirkanku?” Maka terkejutlah ketika jawabannya, “Belum tentu.”

Maka saranku, gaes. Pertama, sebelum memutuskan untuk memprioritaskan lawan jenis, pastikan dahulu lawan jenismu juga memprioritaskan dirimu juga. Ingat, cinta kalian milik berdua, dibangun bersama, diprioritaskan bersama (tolong diingat ilustrasi orang ngobrol). Kedua, usahakanlah ketika mengenal lawan jenis yang menarik dengan keadaan sadar, dengan maksud kehadirannya hanyalah pelengkap pada realitas bukan sebagai main thing, niscaya kamu tidak akan memprioritaskannya. Ketiga, jikalau susah dilaksanakan, maka kamu harus lebih berusaha dalam meyakinkan si Doi, bahwa kamu layak diprioritaskan.

Tentang Penulis

Andika Wahyu Putra

Andika Wahyu Putra

Pencari makna senja seusai hujan, pagi seusai gerimis, dan senyuman manusia lainnya.

  • jenny tasya

    pacaran-bukan-P0K3RV1T4 D.8.E.B.7.E.6.B-prioritas