Berita dan Artikel

Pacarmu Bisa Apa?

Tri Em
Ditulis oleh Tri Em

Berada di antara kumpulan anak muda yang mengaku “gaul” dan menjunjung tinggi sikap “yang penting berkarya”, serta menyaksikan gaya pacaran dan pergaulan remaja pasca-Young Lex-feat-Awkarin membuat saya bahagia. Memang dogma orang-orang tua harus segera dihapuskan dari dinamika pacaran dan pergaulan hari ini. Betul adanya, jika beberapa sikap orang tua zaman dahulu tidak lagi dirasa cocok dengan hidup yang kamu jalani sekarang.

Namun, saya mau bertanya. Untuk kamu yang punya atau pengin disayang seorang pacar, kalian pacaran mikir enggak sih? Betul itu pacarmu? Betul ia seorang yang selalu ada buatmu, selalu bisa membantumu, melebihi kepercayaanmu terhadap tuhanmu sendiri? Jika jawabanmu “ya”, saya turut bahagia dengan pilihan yang penuh pertimbangan itu.

Dalam artikel Mendekonstruksi Wacana Pacaran yang ditulis oleh Bung Luqman, saya sepakat bahwa harus ada suatu usaha untuk kembali memaknai apa itu “pacaran”. Bahwa pacaran bukan melulu soal memiliki pasangan. Pacaran juga bukan semata-mata ingin menemukan kebahagiaan. Lantas apa?

Yang jelas dalam artikel tersebut, saya mengambil simpulan bahwa pacaran bukanlah sebuah penindasan. Pacaran bukan alat untuk mengolok-olok orang-orang yang masih atau memilih sendiri. Hal yang dirasa mudah—kalau pacaran cuma butuh rasa nyaman—pacaran saja sama kasur. Ia tak pernah marah dan tak pernah kecewa. Kamu mau meninggalkannya, selingkuh, bahkan ia rela untuk kamu tiduri kapan saja.

Tapi soalnya kan lain, dan pacarmu bukan kasur. Ada seseorang yang selalu berjuang membikin hari-harimu terasa menyenangkan. Ada seseorang yang selalu menunggu pesan balasan darimu. Senyuman dan candaanmu bahkan mungkin sudah jadi prioritas baginya. Seseorang yang siap patah hati karena sikapmu kadang tak menentu. Pacarmu yang mau memahami cara berpikirmu yang kompleks. Masa sih cuma ini yang bisa dilakukan seorang pacar?

Baiklah, Mbloo. Sebagai orang yang turut bahagia dengan pilihan hidup orang lain, saya coba jelaskan beberapa persoalan untuk kamu yang punya atau pengin disayang pacar.

Ketika tugas-tugas tak kunjung selesai. Berharap pacar dapat membantu kamu mengerjakan tugas-tugas itu, syukur-syukur ia mau mengerjakannya dan kamu bisa berselancar di sosial media. Ya itu sih kalau tugasmu hanya diminta menghitung penjumlahan satu tambah satu. Bagaimana kalau kamu diminta membuat proposal sebuah acara, atau membuat laporan keuangan suatu perusahaan, bahkan tugas akhir yang menentukan kelulusanmu? Bagaimana jika tugas sebenarnya bukan jadi sebentuk benda, melainkan kejujuran? Apa pacarmu bisa membuat kamu menjadi orang yang jujur? Jika tidak, kalau gitu ngapain pacaran? Baru diminta mengerjakan tugas saja kamu tak dapat jujur terhadap dirimu sendiri, tentu kepada pacar pun kamu selalu bisa berbohong.

Persoalan berikutnya. Kamu merasa ia tak punya cukup waktu. Sok sibuk! Mengunggah foto dan memperbaharui status di sosial media bisa, balas chat enggak bisa! Kalau saja kamu paham, pacarmu itu bisa meninggalkan kamu kapan pun ia mau, terutama saat ada yang baru. Saat kamu terus-menerus meragukan cinta pacarmu, sementara ada seseorang yang menurutnya lebih mengerti dan lebih menerima kesibukannya. Kalau saja kamu paham, baginya, yang layak dianggap sebagai pacar itu bukan lagi kamu, melainkan orang lain.

Tidak hanya sampai di situ. Pada saat-saat tertentu, kamu tak dapat bercerita kepada pacarmu. Kamu tak ingin ia ikut pusing memikirkan masalah yang sedang kamu hadapi. Kamu butuh uang sampai harus meminjam kepada orang lain, bukan kepada pacarmu. Atau kamu butuh uang dan pacarmu hanya bisa berkata, “Sabar ya sayang. Kita pasti nemuin jalan keluarnya kok!” dan kamu pun pura-pura baik-baik saja padahal kecewa.

Jika kamu punya utang, ya lunasi, bukan malah menyusahkan orang lain bahkan mengecewakan orang itu. Ketahuilah bahwa bukan kamu saja yang punya urusan. Kewajibanmu membayar utang adalah urusanmu sendiri, dan kamu tetap bisa bersenang-senang dengan pacarmu kok!

Pacaran beda agama. Hubungan tidak direstui oleh kedua orang tua. Ini adalah hal paling kompleks dalam sebuah hubungan. Pacarmu bisa apa? Salah satu dari kalian pindah keyakinan? Ah, kan cuma pacaran, jadi ya jalanin aja, walau ujung-ujungnya harus putus. Menyoal hubungan yang tidak direstui oleh kedua orang tua banyak sebabnya. Sudah satu keyakinan saja belum tentu restu orang tua menyertai hubungan kalian. Atau kalian mau menikah secara diam-diam, kawin lari gitu? Maka yang kalian lakukan itu keren, berani sekaligus bodoh.

Ketika kamu teringat masa lalu. Pacarmu bisa apa? Gak bisa apa-apa. Apalagi masa lalu itu amat kelam. Contoh, seseorang yang kamu sayang meninggal dunia. Kamu terus keingetan dan merasa bersalah atas kematiannya, padahal sekarang kamu sudah punya pacar. Lalu pacarmu itu apa? Pelarian? Atau kalau bukan pelarian, kamu mau mengelak sebagai apa dirinya? Pada akhirnya cuma kamu yang bisa menolong dirimu sendiri. Cuma kamu yang bisa berdamai dengan masa lalumu sendiri.

Sebelum terlambat, sebelum semua yang telah kalian lalui sampai saat ini kemudian hanya membuat hatimu sakit. Sebelum kamu berubah menjadi seorang pembenci. Lebih baik kamu putusin pacarmu sekarang. Atau ajak pacarmu untuk saling mengevaluasi diri, seberapa pantaskah kalian mencintai dan dicintai? Atau jangan-jangan salah satu dari kalian tidak cinta, melainkan hanya butuh? Ya, jujur terhadap diri sendiri jauh lebih baik. Atau kamu butuh kaca?

Tentang Penulis

Tri Em

Tri Em

Amorfati Fatum Brutum. Tim J @jombloodotco.