Berita dan Artikel

Patah Hati Kok Bilangnya “Cinta Tak Harus Memiliki”?

Melfin Zaenuri
Ditulis oleh Melfin Zaenuri

Ngomongin soal cinta, hati, dan rasa memang punya daya tarik tersendiri. Ibarat nonton bokep, selalu bikin kecanduan hingga lupa waktu, tau-tau udah azan subuh. Ngomongin saja bikin kecanduan, apalagi bener-bener jatuh cinta—berjuta-juta rasanya.

“Sulit Ceng ngungkapinnya dalam kata-kata,” kata salah satu temen saya saat awal jadian.

Tapi begini, ngomongin soal cinta tak harus pernah merasakan jatuh cinta. Seperti halnya jika kamu jatuh cinta untuk pertama kali. Dari mana kamu yakin kalau sedang jatuh cinta, padahal sebelumnya belum pernah jatuh cinta? Hayo…, mampus lu nyari jawaban sebagai pembelaan!

Dalam kondisi seperti itu, ngomongin cinta merupakan soal jarak dan batasan. Sejauh mana seseorang mengambil jarak dan batasan dengan apa yang hendak dibicarakannya, dalam hal ini tentang cinta.

Mengambil jarak dan batasan bukan berarti menjadikan cinta sebagai objek. Tapi mengantisipasi bias yang teramat subjektif; mencegah situasi “kecanduan”, “keterlenaan” dan “keterpengaruhan” akibat (jatuh) cinta. Sehingga omongan tidak sekadar “Menurut gue begini, gak tau ya kalo dalam konteksnya lu”. Tidak pula pembenaran-pembelaan belaka. Ada “ketakberpihakan” terhadap subjektivitas yang hendak ditaruh di tengah, sehingga saripati obrolan dapat direngkuh.

Pada jarak dan batasan itu, saya memosisikan diri untuk ngomongin soal cinta. Dalam konteks seorang yang sedang patah hati, yang merupakan tahapan paling muram dalam urusan jatuh cinta. Bagaimana tidak muram? Kamu masih cinta sama dia, eh tiba-tiba dia mutusin dengan alasan yang dibuat-buat. Padahal sebenarnya bukan itu kan alasannya? Ada orang lain yang lebih baik dari kamu, tentu hal itu menurut dia.

Begini. Selama dua tahun belakangan ini, saya telah (dan masih sedang berlangsung) mengamati dan meneliti saat-saat orang patah hati. Tentunya penelitian ini atas inisiatif dan biaya saya sendiri. Tak ada sokongan dana dari lembaga manapun yang dapat mempengaruhi hasil penelitian dan menimbulkan segudang kecurigaan. Tidak juga situsweb Jombloo, yang katanya digerakkan dengan semangat kasih sayang, sampai-sampai memberikan bingkisan sederhana untuk para kontributornya.

Pada kesempatan kali ini, yang menjadi materi penelitian adalah temen saya sendiri. Banyak orang sih yang jadi objek penelitian saya. Tapi saya batasi satu orang saja. Orang ini cukup representatif untuk menjelaskan pola dasar orang patah hati.

Sebut saja namanya Momo (memang nama panggilan sebenarnya). Dua kali jatuh cinta, dua kali patah hati. Artinya, dua kali pula hubungannya kandas di persimpangan jalan.

“Salah siapa kagak noleh-noleh? Sudah tahu di persimpangan,” nasihat saya padanya setelah patah hati.

Di jalan, apalagi di persimpangan, segala kemungkinan dapat terjadi. Ban bocor, kehabisan bensin, ketabrak (baca: ketikung) orang. Masih beruntung kalau hanya lecet-lecet dikit, kalau ternyata tewas di tempat? Kan parah.

“Biarlah, Ceng. Yang penting dia bahagia. Cinta tak harus memiliki tho?” timpal Momo merespon nasihat saya, dengan nada rendah dan datar serta tatapan mata kosong.

Setelah mendengar timpalannya itu, rasa iba saya berubah geram. Ketenangan saya berubah huru-hara. Emosi naik, serasa ingin narik kupingnya, saya dekatkan ke mulut saya, lalu teriak keras-keras: TOLOL!

Betapa tidak tolol. Dua kali patah hati, dua kali pula ia bilang, “Biarlah. Yang penting dia bahagia. Cinta tak harus memiliki tho?” Sangat klise. Parahnya, Momo gak bisa ngambil hikmah dari pengalamannya sendiri. Kayaknya temen saya satu ini gak pernah pakai buku tulis Sidu, yang bagian bawahnya ada kata mutiara “experience is the best teacher”.

Begini, kawan. “Cinta tak harus memiliki” yang diucapkan setelah patah hati karena putus—baik putus sepihak maupun keputusan bersama—merupakan pertanda bahwa kamu masih tersihir oleh pepatah “kalau cinta sudah melekat, tai kucing pun terasa coklat”. Kamu masih belum bisa berkata kepada dirimu sendiri kalau tai kucing itu memang tai kucing, yang baunya saja minta ampun, apalagi rasanya.

Singkatnya, “cinta tak harus memiliki” adalah apologi orang patah hati. Sebatas hiburan semu. Pembenaran-pembelaan yang sebenarnya ditujukan untuk menghibur diri pascaputus. Biar merasa tenang, padahal gelisah. Biar terlihat tegar, padahal rapuh. Tak lebih dari itu.

Semestinya, cinta itu harus memiliki. Wajib. Analoginya dapat ditemukan dalam dunia keseharian. Ketika kita mencintai sesuatu, kita berusaha keras untuk mendapatkannya, memilikinya, merengkuhnya. Menyaksikannya ada dalam genggaman sambil senyam-senyum melihatnya. Tak rela sesuatu itu ada di genggaman orang lain. Bagaimanapun caranya. Tak peduli seberapa mahal harganya. Tak peduli sesuatu itu fungsional atau tidak. Karena ini bukan soal harga dan fungsi. Ini soal “cinta” dan “suka”, anak muda.

Jika tetap bersikukuh bahwa “cinta tak harus memiliki” bukanlah apologi orang patah hati, okelah tak masalah. Tapi camken kata-kata saya ini: di balik kalimat itu sebenarnya ada pengharapan. Patah hati kok bilangnya cinta tak harus memiliki? Semoga Tuhan memberi pencerahan kepada orang-orang yang ingin meng-undo ucapan putus mereka.

Tentang Penulis

Melfin Zaenuri

Melfin Zaenuri

Masih jomblo. Sambil menunggu buku nikah terbit, sesekali belajar masak di kantin filsafat UGM. Bisa disapa di @melfinceng (twitter) dan Melfin Zaenuri (fesbuk).

  • Ilham Diazz Randiall

    Teruntuk pertanyaan yang tertuang dalam tulisannya… Barangkali saya boleh menjawab… “Dari mana kamu yakin kalau sedang jatuh cinta, padahal sebelumnya belum pernah jatuh cinta?”
    Ada perbedaan makna antara teori dan juga praktisi… Bahkan masalah cinta tak luput bersangkutan dari keduanya… Teori membantu kita untuk menganalisis sesuatu bahkan juga bisa digunakan untuk bekal dalam praktisi… Jadi saya cukup menjelaskan dari itu saja… Karena saya yakin anda lebih paham akan maksud saya… Terimakasih