Berita dan Artikel

Penting Mana, Mengingat Tuhan atau Mengingat Pacar?

Fendi Chovi
Ditulis oleh Fendi Chovi

Di Indonesia, tidak sedikit orang tua mewanti-wanti anak-anak mereka agar tak disibukkan dengan aktivitas pacaran. Beberapa dari mereka menyebut bila pacaran identik dengan perbuatan kurang terpuji dalam hubungan muda-mudi.

Meskipun begitu, tak sedikit juga orang tua memilih lebih moderat dan membiarkan anak-anaknya menikmati hubungan pacaran.

Menariknya lagi, ternyata para penentang aktivitas pacaran pun bertebaran dimana-mana, mulai pelosok desa hingga kota-kota besar. Mereka juga berasal dari kalangan aktivis kampus dan ormas keagamaan yang notabene menjunjung tinggi ajaran agama. Bagi mereka pacaran itu haram dan mudah terjebak rayuan setan. Bisa-bisa terjerumus pada kegiatan free sex.

Sayangnya, aksi mereka harus menelan pil pahit. Buktinya, kegiatan pacaran makin menyebar dimana-mana. Di kafe, angkringan, destinasi wisata, hingga di pinggir jalan.

Lagi asyik memikirkan keberagaman pandangan masyarakat terkait pacaran, tiba-tiba saya teringat diskusi dengan teman-teman baru di warung kopi tempo hari. Saya sempat mendengarkan obrolan seru dan membuat saya belajar tentang posisi Tuhan dan seorang pacar di dalam kehidupan ini.

“Mana penting sih, mengingat Tuhan dengan mengingat pacar?” tanya salah satu dari mereka.

“Pentingan mengingat pacar, lah!” jawab yang lain sambil tersenyum dan seolah hendak terkekeh.

“Coba bayangkan. Tuhan itu Maha Kuasa. Memiliki berjuta kasih. Dipikirkan ataupun tidak. Itu tak mengurangi kekuasaan dan kebesaran Tuhan. Tak diingat pun, kasih sayang Tuhan tak akan berkurang kepada kita. Tuhan Maha Adil dan Maha Penyayang,” lanjutnya.

“Beda dengan pacar. Satu hari saja tak dikirimi pesan, tak dihubungi via WhatsApp sudah ngambek. Ya tentu lebih penting ingat pacar lah. Bila pacar tak diperhatikan, kita sudah menyakiti mahluk Tuhan. Bukankah menyakiti makluk Tuhan itu berdosa. Iya, kan?”

Menurut orang itu (maaf, saya tak hafal namanya), berpacaran itu seni. Seni melakoni kebersamaan. Mengenal ketulusan dan berbagi kejujuran, melewati suka duka hubungan. Soal baik dan jeleknya, tergantung individunya masing-masing. Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pacaran selalu identik dengan proses mengenal Tuhan. Kebesaran dan kemahakuasaan-Nya.

Teman ngobrol saya ini pun bercerita dengan blak-blakkan.

Sebenarnya, kegiatan pacaran bisa menyebabkan manusia lebih religius. Tak jarang lebih mampu menerima kehadiran Tuhan di dalam lubuk hati dan memengaruhi mental mereka. Meskipun, mereka tak begitu pintar dalam studi literatur keagamaan. Apalagi, yang intens membahas Tuhan secara definitif dipadukan dengan teks-teks kitab suci.

Tak percaya?

Cobalah lihat bagaimana kehidupan orang-orang saat pacaran. Mereka tak sedikit mulai rajin berdoa. Mendoakan pacarnya. Mendoakan agar hubungan mereka berjalan lancar hingga jenjang pernikahan. Lebih-lebih, bila ternyata hubungan mereka mendapatkan pertentangan dari kedua orang tua.

Hanya Tuhan yang mereka jadikan tempat bersandar sekaligus harapan satu-satunya untuk mendekatkan hubungan itu dan mewujudkan cita-cita mulia mereka, yaitu menikah.

Ya Tuhan, jagalah pacarku. Jadikanlah kami sebagai pasangan yang halal secepatnya dan saling menyayangi selama-lamanya.

Ya Tuhan, berilah kami kekuatan. Agar hubungan ini direstui orang tua kami dan kami bisa hidup bersama dengan ceria dan penuh kebahagiaan.

Itu bunyi-bunyi doa yang dimiliki mereka. Bila tak religius, tak mungkin lah mereka berdoa kepada Tuhan Sang Pencipta.

Apakah pacaran itu buruk?

Saya pikir enggak juga, tergantung bagaimana masing-masing individu yang berpacaran menjalaninya. Tak jarang kok artis-artis sinetron yang kita kenal di layar kaca itu menyandang status suami istri dari hasil kegiatan pacaran. Bila mereka saja bisa menikmati pacaran dengan baik, kenapa kita terlalu sewot memikirkan aktivitas pacaran? Lebih-lebih, bila sampai men-judge, orang yang pacaran sama dengan maklhuk tak bertuhan.

Boleh saja kalian tak setuju dengan usul di atas. Sebab, memang terlalu banyak sih gambaran buruk hubungan muda-mudi saat berpacaran.  Patut disayangkan memang. Jika begitu, apakah kalian tertarik menjadi single?  Sepertinya itu lebih membahagiakan. Sebab tak ada yang menyakiti ataupun merasa tersakiti.

Tentang Penulis

Fendi Chovi

Fendi Chovi

Berharap bisa menghasilkan buku “Maniak Pacaran” di tahun 2017. Menebar semangat perdamaian dunia lewat blog pribadi.

  • putra chandil

    FREEBET dan FREECHIP, BONUS DAN CASHBACK
    BBM : D89CC515
    ADU BANTENG, Sab*ng Ay*m, Sportb*ok, Pok*r, CEM*, CAPS*, D*MIN*, Casin*
    Bonus 10% All Games Bolavada
    Bolavada(.)*com

  • fransiskawijaya

    Ayo Bergabung Bersama Kami Hanya Di P0K3RV1T4….
    HUB:D8EB7E6B