Berita dan Artikel

Dua Profesi, Dua Kisah Cinta yang Berbeda

Ikram Junaid
Ditulis oleh Ikram Junaid

Di musim seminar pra-nikah seperti saat ini, stigma yang beredar di masyarakat masih itu-itu aja: apapun dirimu dan bagaimana cara hidupmu ketika status kesendirian masih melekat pada dirimu, akan tetap dipandang sebelah mata oleh kaum pacaran. Citra negatif pada makhluk yang berlabel jomblo tidak ada habis-habisnya.

Sebagai manusia, hidup itu pasti dinamis. Berganti-ganti pasangan mungkin sudah biasa bagi mereka yang senantiasa tahu bagaimana cara menyentuh hati para wanita. Lalu bagaimana dengan para jomblo akut yang usia kesendiriannya hampir sama dengan lama hukuman pengedar narkoba dan pelaku terorisme? Artinya ombak kehidupan akan terus berkecamuk di tengah luasnya lautan asmara, tidak peduli kamu jomblo akut atau jomblo idealis.

Sahabat Jombloo yang budiman, sehebat-hebat dan semulia-mulianya profesimu saat ini, kalau kamu masih jomblo, tetap saja akan diledek, di-bully, dan berada pada kasta terbawah dalam stratifikasi sosial. Mereka akan menganggapmu sebagai barang antik yang nggak laku-laku di pasaran asmara.

Ada satu contoh nyata, sebut saja dia Pak Sabar. Ia telah menggeluti profesi sebagai guru honorer selama empat tahun di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Peranannya yang mulia yakni memanusiawikan manusia sudah menjadi makanan sehari-harinya. Namun pria berperawakan sederhana ini sudah lama menyandang status jomblo, bahkan ia sering kali terbelunggu pada dunia “kakak-adik zone”, satu istilah yang hampir sama dengan friends-zone, karena usianya yang masih 21 tahun.

Sikap dan sifatnya yang humanis, humoris, dan baperis, membuat Pak Sabar kerap kali terjebak oleh tingkah murid-muridnya yang perhatian. Yah wajarlah murid kan ingin lebih banyak belajar dengan gurunya. Tetapi hal semacam itu sering sekali ditanggapi berbeda olehnya.

Dimulai dengan pendekatan kakak-adik zone, Pak Sabar memberikan perhatiannya pada sosok murid yang dekat dengannya, seperti sms-an, telponan, dan saling memberikan reaksi di media sosial. Harapan besar untuk segera mengakhiri masa jomblo akhirnya menemui titik terang ketika si adik manis nan imut menerima ia sebagai kekasihnya. Singkat cerita, mungkin sudah kutukan, hubungannya tak berlangsung lama, berakhir dengan katakan “putus”. Biasanya penyebab munculnya masalah ialah orang ketiga.

Kejadian semacam ini terus berulang, seolah bereinkarnasi, dengan cerita dan tokoh wanita yang berbeda, namun siklusnya sama. PDKT – baperan – jadian – masalah – putus, kurang lebih begitu siklus kehidupan pencintaan Pak Sabar. Memprihatinkan! Paling tidak, apabila gagal PDKT dan pacaran, maka hanya ada satu kata: NIKAH! Setidaknya Pak Sabar tidak seperti Alim yang masih dibelenggu masa lalu. Uhuk.

Seorang Alim ialah manusia yang penuh impian dengan sejuta ide dan gagasan, sekaligus nasib cinta yang selalu terjerembab ke lubang nestapa bernama “gagal move on”. Profesinya sebagai wirausaha di bidang percetakan dan fotocopy sangat menguji ketahanan batinnya. Betapa tidak, hampir setiap hari ia dihadapkan dengan tender undangan pernikahan. Kegagalan asmaranya menjadikan ia berusaha untuk bahagia dengan cara lain, seperti melihat kebahagiaan orang lain. Yaelah Bang.

Hingga satu ketika Alim menerima tender undangan. Ia terkejut melihat nama dalam undangan yang akan dibuatnya. Yah benar! Nama itu tidak lain adalah mantan kekasihnya. Mantan yang telah lama menghilang, kini datang lagi dengan udangan,  seperti lirik lagu Nike Ardilla aja. Seperti disayat-sayat hatinya sakit!

Untuk bisa move on, ia berinisiatif mengembalikan foto dan barang-barang kenangan dari mantannya yang sudah menikah itu. Namun lagi-lagi itu hanya inisiatif dan mitos belaka. Sampai sekarang barang-barang itu belum dikembalikan, dan ia gagal move on untuk kesekian kalinya. Demi membebaskan kawan saya ini dari penyakit sindrom mantanisme, saya berupaya menemukan akar masalah problematika-romantikanya. Alim ternyata suka mengoleksi barang yang memiliki nilai sejarah, seperti barang pemberian, foto kenangan, dan memori otaknya sendiri.

Sekalipun mereka sering teralienasi oleh masyarakat kontemporer generasi seminar pra-nikah, kedua orang ini tetap setia menjalani pekerjaan yang mulia itu. Semangat kawan! Terus berkarya demi jodoh yang indah di masa depan.

Tentang Penulis

Ikram Junaid

Ikram Junaid

Manusia yang menuju Renaissance.

  • jjlim

    Registrasi Sekarang dan Rasakan Sensasi nya!!!
    ADU BANTENG, Sabung Ayam, Sportbook, Poker, CEME, CAPSA, DOMINO, Casino
    Modal 20 rb, hasilkan jutaan rupiah
    ONLY ON BOLAVADA
    Info lebih lanjut silahkan hubungi operator kami:
    BBM : D89CC515
    No. HP : 0812-8836-2917
    LINE : Bolavada
    Terima Kasih
    Bonus 10% All Games http://www.Bolavada.com
    FREEBET AND FREECHIP 2017 FOR ALL NEW MEMBER !!!
    BBM : D89CC515

  • feronica Tan

    #dua-profesi-dua-kisah-cinta-yang-berbeda/dua-profesi-dua-kisah-cinta-yang-berbeda/dua-profesi-dua-kisah-cinta-yang-berbeda/

    DAPATKAN FREECHIP DAN FREEBET DENGAN KAMI S1288POKER | BBM : 7AC8D76B

  • cahyo

    dua-profesi-dua-kisah-cinta-yang-berbedaP0K3RV1TA D.8.E.B.7.E.6.B