Curhat

Merelakanmu, Tidak Semudah Itu

Amalia Larasanty
Ditulis oleh Amalia Larasanty

Hai kamu, apa kabar? Sadarkah bahwa saat ini sudah memasuki tahun ketiga aku mengenalmu? Aku tidak sadar kapan kamu mulai menarik perhatianku, yang aku sadar, dulu kamu sama sekali tidak mengenalku. Bahkan, setelah kamu tahu aku, aku tidak akan pernah diinginkan olehmu. Aku tahu alasanmu tidak bisa menerimaku, aku mengerti dan aku sadar bahwa memang kamu “berbeda”.

Hai kamu, tahukah kamu? Aku tidak ingat saat pertama kali aku melihatmu. Aku juga tidak ingat saat pertama kali aku menyukaimu. Yang aku ingat hanyalah gerakanmu di atas panggung dan sorak-sorai dari banyak orang untukmu. Ya, aku ingat saat itu. Karena saat itu, aku sadar, bukan hanya aku yang menginginkanmu.

Mungkin kamu tidak akan pernah tahu betapa bahagianya aku saat kamu mulai mengenalku, saat kamu mulai menganggapku ada di dunia ini. Aku bahkan masih ingat kapan dan di mana pertama kalinya kamu memanggil namaku untuk mengucapkan terimakasih. 21 Februari 2015 di sebuah mall. Sebuah momen yang tidak terlupakan untukku, tapi pasti sangat mudah terlupakan bagimu.

Bodoh rasanya, mengingat diriku sendiri yang mencoba mencari tahu tentang apa yang kamu sukai agar aku bisa menciptakan obrolan ketika kita bertemu nantinya. Tapi, ketika waktu itu datang, saat kamu ada di depanku, aku selalu lupa membawa nyaliku hingga tidak ada obrolan seru yang bisa kuciptakan.

Aku, seorang yang hanya kamu anggap sebagai salah satu penggemarmu. Dalam tahap ini, aku bukan hanya masuk dalam kategori “fan-zone” tapi juga masuk dalam “contact-collector-zone“, yaitu saat di mana aku memiliki semua kontakmu, tanpa sedikitpun ku berani menghubungimu.

Setelah tiga tahun ini, aku masih terus berpikir dalam diriku sendiri. Aku tak tahu mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk, lelaki yang kusukai sudah berbahagia dengan wanita lain atau lelaki yang kusukai sedang berbahagia dengan pria lain? Kupikir keduanya buruk, tapi sepertinya yang lebih menyakitkan adalah ketika lelaki yang ku sukai sedang berbahagia dengan pria lain.

Dulu, aku tidak percaya yang dikatakan banyak orang kalau kamu “berbeda”, tapi sampai akhirnya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa mesranya kamu dengan orang itu. Ya, itu sakit. Sangat sakit. Aku bahkan tidak tahu berapa banyak waktu dan air mata yang kuhabiskan karenamu.

Yah setidaknya, jika kamu lebih memilih bersama wanita lain, mungkin aku masih memiliki kesempatan suatu hari nanti. Atau mungkin dalam hatiku akan timbul rasa sadar diri dengan sendirinya, jika memang wanita itu lebih cantik dariku.

Sekarang, sudah lebih dari setahun aku tidak bertemu denganmu dan rindu ini masih terus menggangguku. Kamu tahu kan betapa menyebalkannya rindu? Ia menjelma menjadi sesuatu yang membuatku selalu berharap kamu akan ada di tempat yang sama denganku, setiap waktu. Rindu yang juga membuat orang yang merasakannya susah tidur. Itu juga terjadi padaku. Jujur, aku tersiksa merindukan seseorang yang sama sekali tidak akan pernah bisa mencintaiku.

Aku lelah, sangat lelah. Di satu sisi, aku masih menginginkanmu. Tapi di sisi lain, aku sadar bahwa aku memang harus melepasmu karena kamu tidak akan pernah bisa mencintaiku, dan aku juga harus bisa merelakanmu berbahagia bersama orang itu. Tapi, melepas seseorang yang sudah terlalu lama mengisi hati tidak semudah itu, kan?

Tentang Penulis

Amalia Larasanty

Amalia Larasanty

Calon pengunjung Raja Ampat.

  • cahyo

    merelakanmu-tidak-semudah-ituP0K3RV1TA D.8.E.B.7.E.6.B