Surat Cinta

Semoga Kamu Peka, Barrie Darmono

Sinna Zinsen Twist
Ditulis oleh Sinna Zinsen Twist

….kehidupan meminta kepadaku: buka kedua

tanganmu. Tetapi

Aku takut aku tidak

menggenggam

apa-apa.

(Sebelum Sendiri No. 14, M Aan Mansyur)

Di lereng Gunung Merapi.

Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Wangi teh dan masakan buatan Mbok De tercinta yang tercium di hidung mungilku, membawa harum yang khas. Namun, itu membuat khayalku pergi menembus waktu.

***

Tentang seorang pria sederhana, yang dipuja-puja para pria, dan dikagumi para wanita dalam diamnya. Itu kau, Barrie.

Tak kusangka sebuah tingkah usil seorang kawan mengundangku ke sebuah multichat, membawaku pada pertemuan denganmu. Di lapangan basket. Ku pikir sejenak, setiap kali kita bertemu di lapangan samping hotel ataupun di jalan Kaliurang sana, ini hanya rasa kagum—aku mencegah diriku dari rasa yang lebih. Kusadari, ujung dari pertemuan itu adalah kekalahan Tim Basket ‘Fakultas Kebijaksanaan’ yang kaupimpin. Aku sempat merasa malu, karena seragam yang kukenakan itu seragammu! Aku kalah dengan memakai itu! AARGH.

Kupikir ini adalah akhir dari pertemuanku denganmu. Namun, alam berkata lain.

Aku melompat kegirangan usai mengikuti kelas pagi itu, saat kulihat namamu di papan pengumuman Ujian Skripsi di depan ruang akademik. Macam orang gila, dirimu yang hendak ujian skripsi, kok aku yang senang? Seketika, ada hiatus di relung hatiku. Aku tersadar. Waktu tidak main-main denganku, dia akan membawamu pergi, dia benar-benar akan melakukannya. Aku berjalan murung menuju lift untuk merenung di rooftop. Aku berjalan mondar-mandir sebelum akhirnya aku terduduk menantang mentari yang cerah dan meminta pada Tuhan agar Dia sudi menahanmu sejenak di sini. Tapi, Tuhan yang mana yang akan mendengar doa pendosa sepertiku? Aku pun tidak tahu.

Sang waktu terus berjalan tanpa menghiraukanku. Saat aku melihatmu masuk ke ruang B304, pun saat kita tidak sengaja bertemu di perpustakaan di hari penuh cokelat dan bunga itu. Aku takut, aku takut bertemu denganmu. Aku memusuhi waktu yang membiarkanku mengiba padanya dalam doaku.

Hingga Dia memberiku kesempatan untuk menemuimu, dan menikmati sisa waktumu saat field trip ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan. Perlahan aku biarkan rasa dan intuisiku mengenali perasaan ini. Seperti mimpi, waktu mengizinkanku untuk menikmati hari lainnya denganmu, pada kesempatan yang ku pikir kau akan menolaknya, menjadi rekan pembawa acaraku di farewell party.

Kapan lagi aku bisa menghabiskan waktu seharian denganmu kalau bukan karena ide sang waktu?

Dan di hari-hari lain yang sempit, kau sempatkan untuk sekedar menyapaku dengan senyum manismu. Dan aku selalu terpaku pada pupil matamu yang membulat setiap kali kita menatap.

***

Aku tersadar kembali di meja makan, sendiri dengan sarapanku. Kemudian ponselku terus bergetar di atas meja. Itu sebuah alarm:

His Graduation Day. GO or YOU’LL REGRET IT!

Padahal masih lima minggu lagi. Aku hanya tahu rasaku, dan warna abu-abumu.

Barrie Darmono.

Mungkin waktu itu tidak akan pernah terulang kembali. Aku pun tak mampu menghentikan rasa dan khayalku tentangmu.

Kini, sebelum kau pergi lebih jauh, sebelum kau melupakanku lebih jauh.

Ingin kuteriakkan rasa yang tak sempat terucapkan matahari terbit.

Harapan. Dan cinta.

Ingin kukatakan maaf, yang tak sempat tersampaikan matahari terbenam.

Jika itu salah.

Jika ini hanya akan sia-sia, jelaskan padaku.

Jika ini tak akan berbalas, nyatakan padaku.

Tentang Penulis

Sinna Zinsen Twist

Sinna Zinsen Twist

Indo-girl. Juru tulis untuk Neptunus.