Surat Cinta

Perempuan Bermata Sendu Itu Datang

Tri Kurniawan P.
Ditulis oleh Tri Kurniawan P.

Perempuan…

Pada akhirnya, kugenapi takdir ini dengan lembar-lembar kata yang meminta bersuara. Tentang sepasang mata yang sembunyi-sembunyi mencari pandang, tentang sebait senyum yang datang malu-malu, tentang dirimu yang ingin kukenal saat itu.

Semua ini, bermula dari satu dan dua pagiku yang tanpa sengaja mendapati separas perempuan. Perempuan berkerudung… perempuan bermata sendu… perempuan yang… barangkali kusebutnya keteduhan.

Beberapa waktu silam, ketika kau dan aku belum saling mengenal, hal paling indah yang bisa kurengkuh ialah menyimpan senyummu tiap waktu, pada sekilas tatapan yang berdebu, pada kenyataan yang membiru, pada kerapuhan dan keraguanku. Aku pengecut. Sebab ternyata mata ini tak punya nyali untuk memikul takdirnya. Sepasang mata yang dulu hanya terlahir untuk mencari parasmu di tiap sudut dinding-dinding tua.

Perempuan…

Waktu ini begitu singkat. Yang entah di senja dan pagi yang mana kemudian kita sama-sama menyilangkan rasa. Meminjamkan senyum termanis yang mampu diingat sepanjang masa. Lalu hari-hari pun berlalu dengan hasrat dan rindu yang tersengal. Seperti candu, aku ingin kembali bersua denganmu. Lagi dan lagi..

Perempuan…

Hingga akhirnya kita tiba pada satu jeda. Satu sketsa di mana segala rasa malu dan ego diri meluruh. Aku tak lagi memiliki daya bersembunyi sebab adamu telah cukup untuk alasanku membuka kisah. Bahwa aku ingin menghabiskan usiaku dalam doa-doamu. Menerjemahkan segenap prasangka di dalam diriku bahwa sesungguhnya ku ingin kamu.

Bila dalam puisi kutumpahkan segala kejujuran hati, maka di sini aku ingin menghirup segala udara yang kau beri. Andai kau tahu, Perempuan.. aku telah jatuh hati pada kerlingmu untuk pertama kali. Sebagaimana seringkali kita bincangkan di malam-malam panjang, mendengar segenap kejujuran hati yang kau bacakan ke sisiku tentang rasa penasaran dan “sesuatu” yang mendiami satu sudut hatimu sejak dulu, satu-satunya keinginanku hanyalah menggenapi tempuhan hikayatku.

Sekali lagi, waktu ini begitu singkat berlalu. Satu paras perempuan yang dahulu hanya bisa kucuri hadirnya, saat ini telah utuh ada kumiliki segala senyum termanisnya. Terangnya pribadinya, hangatnya lisan tuturnya, anggunnya pesonanya, segalanya kuhayati bagai puisi-puisi sufi Jalaludin Rumi yang puitik, estetik, dan unik.

Seperti pagi, dirimu ialah sebentuk kelembutan. Selembut buih-buih pasir dari timur Kota Lumajang. Sedangkan aku tak lebih dari seorang pemuda yang lumrah akan rasa pesimis terhadap cinta. Tapi sungguh, kuyakinkan dari dalam hati, ku ingin membaca dan menghayati dirimu sebagaimana aku mencintai sunyi. Sisanya, anggap saja aku sedang ngelindur dan kau boleh membuangnya dalam sia-sia. Sebab, bagaimanapun, cinta memang selalu tinggal di dalam dua kemungkinan: harapan atau luka nestapa. Meski di rumah itu, ku harap kau tak melemparkanku ke dalam kemungkinan yang kedua. Semoga saja.

Perempuan…

Aku ingin memilihmu mendampingi rasa dan bahasaku. Menjadi cahaya terang aku mencintaimu. Menjadi percaya dan kelopak bungaku. Menjadi sejuta bait puisi untuk menampung segala anugerahku. Karena kamu, dan hanya kamu… aku bisa bebas melepaskan segala sisi dewasa sekaligus kekanakanku. Dengan tanpa rasa malu.

Entahlah, tiba-tiba aku rindu kamu…

Catatan Kecil: Terima kasih untuk fitur Instastory, bazar buku, dan buah mangga. Karena darinya, aku bisa mengenal dan menyapa.

Yogyakarta, 20 Mei 2017

Tentang Penulis

Tri Kurniawan P.

Tri Kurniawan P.

Penikmat jalan sunyi.

  • cahyo

    POKERVITA | AGEN DOMINO, POKER DAN SAKONG ONLINE – FREECHIPs D.8.E.B.7.E.6.B