Berita dan Artikel

Yang Meredup dan Menyala Karena Jarak

Melfin Zaenuri
Ditulis oleh Melfin Zaenuri

Kamu dan kekasihmu berada di tempat berbeda dalam waktu yang cukup lama, terpisah oleh jarak yang lumayan jauh dan tak memungkinkan berjumpa secara fisik dalam tempo sesingkat-singkatnya ketika rindu memuncak. Itu artinya, hubunganmu berada dalam keadaan rentan; rentan konflik, perselisihan, ketidaksaling-percayaan dan bumbu-bumbu hubungan lainnya. Pertaruhannya: putus atau hubungan semakin menguat.

Memang, kesetiaan, ketulusan cinta dan kesaling-percayaan suatu jalinan kasih menemukan tantangan dan pertaruhannya dalam hubungan jarak jauh atau LDR-an, long distance relationship. Tak ada jenis hubungan yang paling rentan selain LDR-an.

Jika diibaratkan dengan tubuh manusia, LDR-an itu laiknya tubuh yang rentan akan penyakit. Membiarkan penyakit menggerogoti tubuhmu yang menyebabkan terputusnya hubunganmu dengan dunia kini atau menghadapi penyakit tersebut dengan terapi, pengobatan, dan pola hidup sehat serta ketegaran nan keteguhan jiwa sehingga kamu bisa melanjutkan kehidupan dengan lebih optimis. Keduanya adalah pilihan, dan keputusan sepenuhnya ada di tanganmu.

Dalam hal LDR-an, penyakitnya bermacam-macam, banyak, bahkan sampai kompilasi. Yang jelas dan pasti, konflik akan sering terjadi. Keterbatasan bertemu secara fisik merupakan pemicunya. Meskipun sekarang udah ada media sosial, bisa video call-an, bisa kirim-kirim stiker lucu nan romantis yang dinilai bisa mewakili perasaan, tapi ya tetap, kesalahpahaman tak dapat dihindarkan.

Yang enggak LDR-an aja kerap mengalami salah paham, apalagi yang LDR-an.

Kesalahpahaman dapat diminimalisir dengan pertemuan fisik, percakapan dua bibir, bertatapnya empat mata dan tumpang-tindihnya tangan dua insan. Ketika bertemu, yang ada justru bukan kesalahpahaman, tapi kesepahaman: bahwa kita sedang dimabuk cinta dan menunaikan rindu. Apalagi rindu, tuntutannya jelas: pertemuan. Media sosial dengan segala kecanggihannya menjadi tidak berguna dihadapan orang yang sedang merindu. Karena, hangatnya hembusan nafas dan genggaman tangan dia tak bisa digantikan dengan panasnya smartphone.

Selalu ada yang berarti dari sebuah pertemuan. Di situ menuntut kehadiran dan kedekatan. Dan LDR-an itu minim pertemuan, kurangnya kehadiran, sedikitnya waktu bersama. Sehingga, percikan-percikan kecil dapat dengan mudah membakar emosi kedua belah pihak, sangat sering terjadi kesalahpahaman, lalu konflik, lalu disintegrasi perasaan, ujungnya putus. Cinta meredup begitu saja karena jarak.

Sudah banyak LDR-an yang berakhir pada putus. Lebih banyak lagi kandas di tengah jalan, hilang tanpa bilang-bilang. Di tengah jalan, sangat mungkin dia bertemu dengan seseorang dan kamu baru tahu ketika mereka berdua sudah sampai alun-alun kota, berjalan sembari bergantengan tangan. Taunya dari temannya doi lagi. Sangat amat menyedihkan. Lebih sangat amat menyedihkannya lagi, kamu masih percaya the power of balikan; menunggu doi sadar dan kembali ke pangkuanmu, siapa tahu ada kesempatan kedua.

Kayaknya yang perlu di-sadar-kan itu kamu deh. Udah tau komitmen dilanggar, kesetiaan dan kesalingpercayaan dinodai, janji diinjak-injak, masih saja mengharap, menunggu; ia hanya pergi dan akan kembali lagi. Pret!   

Hadirnya orang ketiga sangat sering terjadi dalam LDR-an. Ya walaupun tidak menutup kemungkinan bagi yang enggak LDR-an. Kira-kira prinsipnya gini: “kalok ada yang dekat, ngapain ke yang jauh. Kalok yang dekat selalu ada dan hadir, ngapain mengharapkan yang jauh yang masih penuh tanda tanya: apakah dia masih ada untuk kita.”

Perihal LDR-an, Sutan Sjahrir, Bapak Bangsa dan Perdana Menteri pertama Indonesia itu lho, dapat dijadikan pelajaran sekaligus suri tauladan. Kisah asmara Sjahrir pernah redup karena jarak, namun bersinar karena jarak pula.

Sjahrir pernah memandu kasih dengan Maria Duchâteau, seorang perempuan Belanda, yang dikenalnya saat menempuh studi di Belanda. Keduanya pernah menikah dan hidup bersama meskipun cuman sebentar. Namun, karena aturan pemerintah kolonial, keduanya menjalani LDR-an; Sjahrir di Hindia Belanda dan Maria di Belanda.

Jalinan kasih tak serta merta meredup. Malah tambah hangat lewat surat-menyurat antar keduanya. Keinginan untuk bertemu sangatlah kuat. Tapi, ya karena Sjahrir sibuk dengan aktivitas perjuangan kemerdekaan Indonesia, pertemuan baru terjadi setelah Indonesia merdeka ketika Sjahrir sebagai perdana menteri berkunjung ke India bertemu Jawaharlal Nehru. Namun, nyala cinta keduanya sudah meredup dan Sjahrir, pada waktu itu, sedang menjalin asmara dengan asistennya, Poppy Saleh.

Dengan Poppy Saleh lah, Sjahrir menikah dan menjalani hidup bersama sampai ajal menjemputnya. Jangan salah lho, sebelum menikah, Sjahrir dan Poppy pernah menjalani LDR-an juga. Ketika itu, Poppy di Belanda, lalu ke London karena menempuh studi dan Sjahrir di Jakarta. Keduanya menikah setelah Poppy menyelesaikan studi.

Lengkap sudah!

LDR-an, bagaimanapun juga, perlu untuk menguji apakah kamu dan dia itu cocok. Lebih tepatnya menguji kesetiaan dan kesalingpercayaan. Intinya menguji janji dan komitmen. Untuk memastikan ketulusan jalinan kasih kamu dan doi. Sehingga bisa dipastikan cintamu meredup ataukah menyala karena jarak.

Tentang Penulis

Melfin Zaenuri

Melfin Zaenuri

Masih jomblo. Sambil menunggu buku nikah terbit, sesekali belajar masak di kantin filsafat UGM. Bisa disapa di @melfinceng (twitter) dan Melfin Zaenuri (fesbuk).

  • jjlim

    ADU BANTENG, Sabung Ay*m, Sportbo*k, Pok*r, CEME, C*PS*, DOMIN*, C*sin*
    AYOO SERBUU GAN MUMPUNG GRATIS DAN MURAH
    BBM : D89CC515
    www*(.)Bolavada(.)*com

  • cahyo

    HOT GAMES, MUDAH DAN CEPAT P0K3RV1TA D.8.E.B.7.E.6.B